Jakarta Islamic Index (JII) berfungsi sebagai tolok ukur utama untuk ekuitas yang sesuai dengan prinsip Syariah di Indonesia. Namun, atribusi kinerjanya sering kali hanya bergantung pada perbandingan faktor tunggal, yang berpotensi menyembunyikan premi risiko spesifik yang melekat pada pasar negara berkembang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kerangka kerja penentuan harga aset (asset pricing) yang paling akurat dalam menjelaskan excess return saham JII melalui analisis komparatif langsung antara Capital Asset Pricing Model (CAPM), model Fama-French Tiga Faktor (FF3F), dan model Fama-French Lima Faktor (FF5F).
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi runtun waktu (time-series regression) berdasarkan metode Ordinary Least Squares (OLS). Periode pengamatan mencakup Januari 2016 hingga Desember 2024 (108 observasi bulanan). Dataset terdiri dari portofolio berbobot nilai (value-weighted) yang dikonstruksi dari 22 perusahaan JII yang terdaftar secara berkelanjutan, sedangkan faktor risiko independen dikonstruksi dari semesta saham non-keuangan yang lebih luas di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Hasil empiris menunjukkan bahwa Risiko Pasar merupakan pendorong dominan pengembalian JII, dengan signifikansi statistik yang tinggi di seluruh model. Faktor Nilai (HML) ditemukan memiliki signifikansi marginal (p < 0.10), yang mengindikasikan bahwa JII tidak secara konsisten menangkap premi nilai yang kuat. Sebaliknya, faktor Ukuran (SMB), Profitabilitas (RMW), dan Investasi (CMA) ditemukan tidak signifikan secara statistik; hasil ini dikaitkan dengan penyaringan likuiditas ketat pada JII yang secara inheren memilih perusahaan mapan berkapitalisasi besar. Analisis komparatif menunjukkan bahwa meskipun model FF5F memberikan daya penjelasan tertinggi (Adjusted R2 sebesar 44,5%), peningkatannya dibandingkan model FF3F (43,7%) sangat kecil. Studi ini menyimpulkan bahwa investor tidak dapat hanya mengandalkan JII untuk paparan faktor risiko strategis dan menyarankan manajer dana Syariah untuk beralih ke strategi multifaktor aktif guna menangkap peluang Alpha yang tidak tersedia dalam tolok ukur tersebut.
Perpustakaan Digital ITB