digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri semen merupakan salah satu penyumbang emisi karbon dioksida (CO2) global dengan kontribusi sekitar 7–8%, terutama dari proses kalsinasi batu kapur dan pembakaran bahan bakar pada temperatur tinggi. Salah satu teknologi penangkapan CO2 yang berpotensi diterapkan pada industri semen adalah calcium looping (CaL), yaitu proses berulang kalsinasi dan karbonasi yang memanfaatkan reaksi reversibel antara kalsium karbonat (CaCO3), kalsium oksida (CaO), dan CO2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas keterulangan siklus CaL terhadap daya serap CO2 pada enam sumber batu kapur di Indonesia, yaitu Citeureup, Tuban, Padang, Cilacap, Bayah, dan Narogong, hingga sepuluh siklus. Pengujian dilakukan secara eksperimental berdasarkan perubahan massa sampel untuk menghitung konversi reaksi dan daya serap CO2. Karakterisasi material dilakukan menggunakan X-Ray Diffraction (XRD), Scanning Electron Microscopy (SEM), dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS) untuk menganalisis perubahan fasa, morfologi, dan komposisi unsur sorben. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh sampel mengalami penurunan kinerja setelah digunakan berulang. Rata-rata konversi karbonasi menurun dari 51,92% pada siklus pertama menjadi 16,60% pada siklus ke-10. Pada siklus ke-10, batu kapur Bayah menunjukkan daya serap CO2 tertinggi sebesar 0,136 g CO2/g CaCO3, sedangkan Citeureup menunjukkan daya serap terendah sebesar 0,064 g CO2/g CaCO3. Penurunan kinerja sorben disebabkan oleh degradasi material akibat sintering, penyempitan pori, aglomerasi partikel, dan hambatan difusi CO2 pada siklus berulang.