Tesis ini membahas dilema strategis dalam pendanaan Proyek Hauling Road Segmen H3 pada PT Atlas Resources Tbk, yang dinilai krusial untuk menghilangkan ketergantungan perusahaan terhadap jalan angkut milik pihak ketiga. Permasalahan utama terletak pada keputusan antara mendanai proyek menggunakan sumber daya internal melalui skema Corporate Finance atau memanfaatkan sumber pendanaan eksternal melalui penerapan Project Finance dengan skema Build–Operate–Transfer (BOT) dalam kemitraan private-to-private. Oleh karena itu, penelitian ini menerapkan analisis valuasi keuangan dan risiko, serta membandingkan hasil kedua skenario untuk menentukan alternatif pendanaan yang mampu memberikan nilai tertinggi yang telah disesuaikan dengan risiko bagi perusahaan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik capital budgeting sebagai alat analisis utama. Analisis dilakukan berdasarkan valuasi Discounted Cash Flow (DCF) yang dilengkapi dengan analisis sensitivitas, analisis skenario, dan simulasi Monte Carlo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua skenario pendanaan layak secara finansial. Skenario Corporate Finance menghasilkan Net Present Value (NPV) yang lebih tinggi sebesar Rp 1.243 miliar dengan Internal Rate of Return (IRR) sebesar 48,33%. Di sisi lain, skenario Project Finance (BOT) menghasilkan NPV yang sedikit lebih rendah sebesar Rp 1.183 miliar, namun memberikan isolasi risiko melalui pengalihan risiko konstruksi dan operasional kepada Special Purpose Vehicle (SPV).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa skema Project Finance (BOT) merupakan alternatif yang paling tepat bagi PT Atlas Resources Tbk. Perbedaan nilai finansial sekitar 4,8% dipandang sebagai trade-off atas manfaat segregasi risiko pada tingkat proyek, yang meningkatkan fleksibilitas keuangan perusahaan induk serta membatasi eksposur perusahaan terhadap risiko spesifik proyek. Oleh karena itu, direkomendasikan agar PT Atlas Resources Tbk melanjutkan proyek dengan menggunakan model BOT, yang didukung oleh perjanjian konsesi yang terstruktur dengan baik terkait mekanisme pengalihan aset pada akhir masa konsesi.
Perpustakaan Digital ITB