digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


MARSYA PANCANITI NISRINA RUSLAN
EMBARGO  2029-08-07 

MARSYA PANCANITI NISRINA RUSLAN
EMBARGO  2029-08-07 

MARSYA PANCANITI NISRINA RUSLAN
EMBARGO  2029-08-07 

MARSYA PANCANITI NISRINA RUSLAN
EMBARGO  2029-08-07 

MARSYA PANCANITI NISRINA RUSLAN
EMBARGO  2029-08-07 

MARSYA PANCANITI NISRINA RUSLAN
EMBARGO  2029-08-07 


Indonesia merupakan salah satu produsen rumput laut terbesar di dunia yang berpotensi sebagai sumber polimer alginat. Namun, pemanfaatan rumput laut sebagai biomaterial bernilai tambah untuk aplikasi kesehatan dan kosmetik masih sangat terbatas. Paparan radiasi ultraviolet dan polusi lingkungan meningkatkan pembentukan radikal bebas yang menyebabkan photoaging melalui degradasi kolagen kulit. Penelitian ini bertujuan membandingkan metode ekstraksi asam dan enzim untuk memperoleh alginat dari Sargassum sp. sebagai prekursor sintesis hijau nanopartikel emas (AuNPs), serta mengevaluasi aktivitas antioksidan nanokomposit yang dihasilkan sebagai kandidat material anti-aging. Metode ekstraksi asam menghasilkan rendemen alginat yang lebih tinggi (31,41–62,63%) dibandingkan metode enzim (9,04–12,55%). Keberhasilan isolasi alginat dikonfirmasi melalui spektrum FTIR yang menunjukkan keberadaan gugus karboksilat dan ikatan glikosidik khas, sedangkan analisis 1H-NMR mengonfirmasi struktur polimer dengan rasio M/G sebesar 0,96 dan 1,51. Sintesis hijau AuNPs berhasil dilakukan, ditandai oleh puncak resonansi plasmon permukaan pada 535 nm dan 543 nm. Analisis TEM menunjukkan nanopartikel berbentuk sferis dengan ukuran 20,10–111,90 nm, yang dipengaruhi oleh kondisi pH sintesis. Uji aktivitas antioksidan menggunakan ABTS menunjukkan bahwa nanokomposit berbasis alginat hasil ekstraksi asam memiliki persen inhibisi 28,75–75,76%, jauh lebih tinggi dibandingkan nanokomposit hasil ekstraksi enzim (7,94–17,67%). Alginat dan nanokomposit menunjukkan aktivitas perlindungan UVB yang tinggi dan setara (79,92–81,35%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ekstraksi asam menghasilkan rendemen dan aktivitas antioksidan nanokomposit yang lebih tinggi, sedangkan metode enzim menghasilkan alginat dengan kemurnian struktural dan kestabilan koloid yang lebih baik, sehingga pemilihan metode bergantung pada karakteristik yang diprioritaskan. Temuan ini menunjukkan potensi nanokomposit alginat–AuNPs sebagai biomaterial ramah lingkungan untuk pengembangan produk anti-aging. Kajian biokompatibilitas dan toksisitas seluler masih diperlukan untuk mengonfirmasi keamanan material sebelum pengembangan lebih lanjut.