digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Toksoplasmosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan prevalensi tertinggi dilaporkan di Pulau Jawa (53,2%). Keberadaan dan kepadatan populasi kucing sebagai inang definitif Toxoplasma gondii di berbagai lingkungan, termasuk kawasan kampus, perlu mendapat perhatian karena berpotensi meningkatkan paparan terhadap parasit ini. Selain itu, toksoplasmosis dalam beberapa tahun terakhir juga banyak dikaitkan dengan dampak neurologis dan kesehatan mental. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi toksoplasmosis pada komunitas Institut Teknologi Bandung (ITB) kampus Ganesha, mengidentifikasi faktor risiko terkait, serta mengevaluasi hubungan antara seropositivitas toksoplasmosis dengan status kesehatan mental menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire-20 (SRQ-20). Penelitian dilakukan dengan desain potong lintang pada 262 subjek (ukuran sampel dihitung menggunakan Epi Info TM dari CDC), dan analisis dilakukan menggunakan uji Chisquare serta regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan seroprevalensi toksoplasmosis di ITB kampus Ganesha sebesar 41,6%. Peluang seropositivitas meningkat seiring bertambahnya usia (OR = 1,04; 95% CI: 1,01–1,08; p = 0,025), lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan perempuan (OR = 2,18; 95% CI: 1,10– 4,32; p = 0,026), serta paling tinggi dan sangat bermakna pada pekerja luar ruangan dibandingkan pekerja di dalam ruangan (OR 4,05; 95% CI: 2,29–7,18; p < 0,001). Hasil analisis SRQ-20 menunjukkan subjek yang cenderung mengalami masalah kesehatan mental (skor ?6) sebesar 26,7% dan 28,6% diantaranya mengalami seropositif IgG toksoplasma. Tidak ditemukan hubungan bermakna secara statistik antara faktor perilaku yang diteliti maupun status kesehatan mental berdasarkan SRQ-20 dengan seropositivitas IgG T. gondii. Temuan ini menekankan pentingnya meningkatkan kesadaran warga ITB dan upaya pencegahan toksoplasmosis yang berfokus pada pengendalian paparan lingkungan serta perlindungan kelompok pekerja berisiko.