Abstrak - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
COVER - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB I - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB II - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB III - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB IV - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB V - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Krisis iklim global mendorong seluruh sektor, termasuk sains dasar seperti
astronomi, untuk mengevaluasi kontribusi aktivitasnya pada emisi gas rumah
kaca. Penelitian ini mengestimasi jejak karbon infrastruktur riset astronomi
serta menganalisis hubungan antara umur fasilitas lifetime, tipe infrastruktur,
dan intensitas karbon luaran ilmiah dalam kerangka etika pembangunan
berkelanjutan (SDGs). Objek studi mencakup puluhan observatorium landas
bumi dan misi antariksa.
Metode yang digunakan adalah carbon accounting, yaitu pendekatan kuantitatif
emisi karbon berbasis biaya dan massa payload, dikombinasikan dengan
analisis statistik. Intensitas karbon dihitung dalam satuan CO2e per publikasi
dan per penulis. Ketidakpastian global diestimasi menggunakan bootstrap, sedangkan
korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan antara lifetime,
diameter teleskop, dan intensitas karbon. Analisis juga mencakup identifikasi
zona efisien, serta fasilitas-fasilitas landas bumi dan antariksa yang intensitas
karbonnya mirip.
Hasil menunjukkan bahwa jejak karbon global infrastruktur astronomi mencapai
21 MtCO2e dengan fasilitas dominan pada observatorium landas bumi
sebesar 12-14 MtCO2e. Fasilitas dengan lifetime lebih panjang cenderung
menghasilkan intensitas karbon yang rendah. Namun penilaian efisiensi tidak
dapat ditentukan hanya berdasarkan umur fasilitas. Dalam rentang umur
tertentu, observatorium landas bumi dapat memiliki intensitas karbon yang
sama dengan misi antariksa. Analisis pada tingkat individual atau tipe fasilitas
menunjukkan bahwa pendekatan berbasis karakteristik spesifik setiap
infrastruktur memberikan dasar yang lebih akurat untuk merumuskan strategi
perbaikan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa emisi karbon astronomi merupakan sistem
multikomponen yang kompleks karena menyangkut banyak hal. Walaupun
intensitas karbon relatif tinggi, astronomi juga menghasilkan spin-off teknologi
dan kontribusi strategis bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, diperlukan
perencanaan infrastruktur berbasis efisiensi karbon, inventarisasi emisi
yang transparan, serta integrasi prinsip keadilan iklim dalam pengembangan
fasilitas astronomi ke depan.
Perpustakaan Digital ITB