digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB I - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN - Adinda Putri Jannatul Firdaus
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Krisis iklim global mendorong seluruh sektor, termasuk sains dasar seperti astronomi, untuk mengevaluasi kontribusi aktivitasnya pada emisi gas rumah kaca. Penelitian ini mengestimasi jejak karbon infrastruktur riset astronomi serta menganalisis hubungan antara umur fasilitas lifetime, tipe infrastruktur, dan intensitas karbon luaran ilmiah dalam kerangka etika pembangunan berkelanjutan (SDGs). Objek studi mencakup puluhan observatorium landas bumi dan misi antariksa. Metode yang digunakan adalah carbon accounting, yaitu pendekatan kuantitatif emisi karbon berbasis biaya dan massa payload, dikombinasikan dengan analisis statistik. Intensitas karbon dihitung dalam satuan CO2e per publikasi dan per penulis. Ketidakpastian global diestimasi menggunakan bootstrap, sedangkan korelasi Pearson digunakan untuk menguji hubungan antara lifetime, diameter teleskop, dan intensitas karbon. Analisis juga mencakup identifikasi zona efisien, serta fasilitas-fasilitas landas bumi dan antariksa yang intensitas karbonnya mirip. Hasil menunjukkan bahwa jejak karbon global infrastruktur astronomi mencapai 21 MtCO2e dengan fasilitas dominan pada observatorium landas bumi sebesar 12-14 MtCO2e. Fasilitas dengan lifetime lebih panjang cenderung menghasilkan intensitas karbon yang rendah. Namun penilaian efisiensi tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan umur fasilitas. Dalam rentang umur tertentu, observatorium landas bumi dapat memiliki intensitas karbon yang sama dengan misi antariksa. Analisis pada tingkat individual atau tipe fasilitas menunjukkan bahwa pendekatan berbasis karakteristik spesifik setiap infrastruktur memberikan dasar yang lebih akurat untuk merumuskan strategi perbaikan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Penelitian ini menyimpulkan bahwa emisi karbon astronomi merupakan sistem multikomponen yang kompleks karena menyangkut banyak hal. Walaupun intensitas karbon relatif tinggi, astronomi juga menghasilkan spin-off teknologi dan kontribusi strategis bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, diperlukan perencanaan infrastruktur berbasis efisiensi karbon, inventarisasi emisi yang transparan, serta integrasi prinsip keadilan iklim dalam pengembangan fasilitas astronomi ke depan.