PT Kereta Api Indonesia (Persero) menargetkan peningkatan volume angkutan batu
bara dari 68,1 juta ton pada tahun 2025 menjadi 105 juta ton pada tahun 2030.
Pencapaian target ini memerlukan penambahan sarana lokomotif dan prasarana
pendukung, termasuk meja putar lokomotif (turntable), sebagai fasilitas kritis untuk
memutar lokomotif berkabin tunggal (CC 205) guna mendukung efisiensi
operasional. Penelitian ini bertujuan menghasilkan rekomendasi nilai RAMS
requirement, spesifikasi teknis, estimasi Life Cycle Cost (LCC), serta strategi
pengadaan turntable yang efisien dan tepat sasaran. Penelitian diawali dengan
analisis kebutuhan lokomotif berdasarkan 21 relasi angkutan batu bara di Sumatera
Selatan, kemudian penentuan lokasi prioritas pembangunan turntable
menggunakan metode flowchart multi kriteria. Analisis RAMS dilakukan terhadap
data historis satu unit turntable eksisting di Depo Sarana Cipinang periode Februari
2021 – Januari 2026 (34 kejadian kerusakan) menggunakan uji distribusi Weibull
dengan software Minitab. Penilaian risiko (safety) menggunakan matriks risiko 5x5.
Perhitungan LCC dilakukan untuk periode 20 tahun dengan pendekatan Total Cost
of Ownership. Strategi pengadaan dirumuskan menggunakan Matriks Kraljic dan
mengacu pada FIDIC Yellow Book 2017 (design and build).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mencapai target angkutan tahun 2030
diperlukan tambahan 118 unit lokomotif CC 205 dan pembangunan 10 unit
turntable dengan prioritas utama di Stasiun Kertapati, Sukacinta, dan Kramasan.
Nilai RAMS yang direkomendasikan adalah MTBF ? 2.000 jam, A? ? 99,5%, A? ?
99%, MTTR total ? 4 jam (komponen berat ? 5 jam, komponen ringan ? 2 jam),
dengan seluruh risiko keselamatan berhasil diturunkan ke level rendah/sedang
melalui mitigasi terstruktur. Estimasi LCC satu unit turntable selama 20 tahun
mencapai Rp10.601.757.100. Turntable diklasifikasikan sebagai barang strategis
dalam Matriks Kraljic, sehingga strategi pengadaan direkomendasikan melalui
empat tahap: pra-pengadaan dengan two-stage tendering, pemilihan vendor
berbobot (teknis 60%, LCC 30%, komersial 10%), manajemen risiko dengan FIDIC
Yellow Book dan DAAB, serta pasca-pengadaan melalui FAT, SAT, pelatihan,
evaluasi vendor, dan database RAMS terintegrasi.Penelitian ini menghasilkan
rekomendasi komprehensif bagi PT KAI dalam pengadaan turntable berbasis
RAMS dan LCC untuk mendukung peningkatan target angkutan batu bara nasional.
Perpustakaan Digital ITB