Indonesia, sebagai tuan rumah bagi beragam ekosistem, kini menghadapi tantangan serius akibat perubahan iklim global. Pemanasan global telah merenggut keanekaragaman hayati, memberikan sinyal darurat bagi kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. Dampak perubahan iklim global telah menjadi perhatian masyarakat negara-negara di dunia, termasuk Indonesia. Sebagai negara kepulauan yang memiliki berbagai sumber daya alam dan keanekaragaman yang tinggi. Indonesia memiliki potensi yang besar untuk terkena dampak negatif perubahan iklim, dan sekaligus berpotensi besar untuk turut andil dalam melakukan mitigasi maupun adaptasi terhadap dampak negatif perubahan iklim.. Target emisi nol bersih Indonesia perlu dilihat sebagai bagian dari transformasi yang diperlukan dalam upaya menjadi negara dengan ekonomi maju tahun 2045. Potensi besar PLTS di seluruh wilayah Indonesia juga tidak dapat termanfaatkan secara maksimal untuk menyediakan energi listrik yang berkualitas dan handal bagi masyarakat. Kabupaten Pangandaran merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi besar menerima radiasi matahari. Pesisir Pantai Pangandaran selain memiliki potensi sumber daya matahari, wilayah ini memiliki potensi angin dan gelombang air laut yang cukup besar. Penelitian ini menggunakan metode campuran antara kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif melibatkan analisis mendalam terhadap literatur yang berkaitan dengan perencanaan lanskap dan energi, sedangkan secara kuantitatif, dilakukan dengan menganalisis praktik perencanaan lanskap menggunakan pendekatan yang luas, seperti pemetaan area potensial, multikriteria dan perangkat GIS. Inventarisasi data dibagi ke dalam 3 kategori, fisik, biologi, dan budaya. Analisis kesesuaian dilakukan pada tahap pertama untuk dapat menentukan lokasi strategis yang dapat menampung pengembangan energi solar dan energi bayu dengan kriteria dan batasannya masing-masing. Lokasi yang paling strategis berada di Desa Cikembulan, Kecamatan Sidamulih, dikarenakan lokasi secara garis besar dari segi fisik memiliki area yang sangat landai, elevasi antara -3 sampai 22 meter di atas permukaan laut serta potensi solar dan angin yang tinggi. Analisis mitigasi bencana, analisis tapak, analisis dampak visual adalah analisis yang selanjutnya dilakukan untuk mengetahui penempatan setiap komponen lanskap energi tidak membuat penurunan nilai lanskap, selain itu hal ini dimaksudkan karena area perencanaan berada di daerah pesisir yang memiliki potensi tsunami. Perencanaan lanskap energi menghasilkan produk masterplan dengan konsep ”Ngadeuheus ka Niskala” yang mempertahankan ekosistem mosaik, yaitu tipe habitat air, vegetasi darat, lahan transisi, dan area buatan, dengan energi terbarukan yang menjadi bagian dari sistem lanskap.
Perpustakaan Digital ITB