Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa variabilitas temperatur udara menurun
signifikan pada ketinggian di atas 20 cm, sehingga tinggi pengukuran standar World
Meteorological Organization (WMO) berada pada lapisan yang lebih stabil dan
representatif. Namun, temuan tersebut terbatas pada satu jenis permukaan dengan
interval ketinggian sensor yang tidak seragam. Penelitian ini bertujuan melaporkan
perbedaan profil temperatur udara vertikal di atas berbagai jenis permukaan
menggunakan interval ketinggian sensor yang seragam, sekaligus mengevaluasi
konsistensinya terhadap studi terdahulu.
Pengamatan dilakukan di ITB Kampus Jatinangor pada tiga lokasi yang
merepresentasikan jenis permukaan berbeda, yaitu aspal, gravel merah, dan rumput.
Temperatur udara diukur menggunakan 21 sensor termokopel tipe-T yang disusun
secara vertikal pada ketinggian 0–200 cm dengan interval 10 cm. Pengukuran
dilakukan selama periode pemanasan aktif (09.00–14.00 WIB) dengan total durasi
observasi 12 hari.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketiga jenis permukaan memiliki pola profil
vertikal yang serupa, yaitu temperatur tertinggi berada pada lapisan terdekat dengan
permukaan dan menurun seiring bertambahnya ketinggian sebagai respons terhadap
pemanasan dari bawah (bottom-up heating). Temperatur permukaan mencapai
sekitar 42,7 °C pada aspal, 38,1 °C pada gravel merah, dan 34,7 °C pada rumput.
Perbedaan tersebut menurun tajam pada ketinggian di atas 20 cm, dengan
temperatur rata-rata masing-masing sebesar 30,4 °C, 30,2 °C, dan 29,7 °C. Profil
gradien temperatur mengonfirmasi bahwa perbedaan intensitas gradien dominan
pada lapisan 0–10 cm dan menurun drastis di atas 20 cm. Temuan ini memperkuat
bukti bahwa pengaruh karakteristik permukaan terbatas pada lapisan paling dekat
permukaan, dengan magnitudo respons pemanasan yang ditentukan oleh sifat
radiatif dan termal masing-masing permukaan.
Perpustakaan Digital ITB