digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Salwa Assyifa
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa variabilitas temperatur udara menurun signifikan pada ketinggian di atas 20 cm, sehingga tinggi pengukuran standar World Meteorological Organization (WMO) berada pada lapisan yang lebih stabil dan representatif. Namun, temuan tersebut terbatas pada satu jenis permukaan dengan interval ketinggian sensor yang tidak seragam. Penelitian ini bertujuan melaporkan perbedaan profil temperatur udara vertikal di atas berbagai jenis permukaan menggunakan interval ketinggian sensor yang seragam, sekaligus mengevaluasi konsistensinya terhadap studi terdahulu. Pengamatan dilakukan di ITB Kampus Jatinangor pada tiga lokasi yang merepresentasikan jenis permukaan berbeda, yaitu aspal, gravel merah, dan rumput. Temperatur udara diukur menggunakan 21 sensor termokopel tipe-T yang disusun secara vertikal pada ketinggian 0–200 cm dengan interval 10 cm. Pengukuran dilakukan selama periode pemanasan aktif (09.00–14.00 WIB) dengan total durasi observasi 12 hari. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketiga jenis permukaan memiliki pola profil vertikal yang serupa, yaitu temperatur tertinggi berada pada lapisan terdekat dengan permukaan dan menurun seiring bertambahnya ketinggian sebagai respons terhadap pemanasan dari bawah (bottom-up heating). Temperatur permukaan mencapai sekitar 42,7 °C pada aspal, 38,1 °C pada gravel merah, dan 34,7 °C pada rumput. Perbedaan tersebut menurun tajam pada ketinggian di atas 20 cm, dengan temperatur rata-rata masing-masing sebesar 30,4 °C, 30,2 °C, dan 29,7 °C. Profil gradien temperatur mengonfirmasi bahwa perbedaan intensitas gradien dominan pada lapisan 0–10 cm dan menurun drastis di atas 20 cm. Temuan ini memperkuat bukti bahwa pengaruh karakteristik permukaan terbatas pada lapisan paling dekat permukaan, dengan magnitudo respons pemanasan yang ditentukan oleh sifat radiatif dan termal masing-masing permukaan.