digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Intan Nuraini
PUBLIC Open In Flipbook Resti Andriani

BAB 1 Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 6 Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Intan Nuraini
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Endapan besi laterit merupakan hasil pelapukan intensif batuan ultramafik yang menghasilkan pengayaan residual besi, namun karakteristik geokimia dan mineraloginya masih belum banyak dikaji dibandingkan endapan nikel laterit. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi distribusi unsur pada profil besi laterit Blok BAT, Pulau Sebuku, serta membandingkannya dengan beberapa endapan nikel laterit di Indonesia. Kajian didasarkan pada konsep laterisasi, derajat laterisasi, dan pendekatan mass balance melalui analisis isocon dan mass transfer. Data yang digunakan berupa 4,076 data assay Blok BAT dan 65 data XRF dari daerah pembanding (Sorowako, Pomalaa, dan Obi). Pengolahan data meliputi analisis statistik, downhole plot, box plot, regresi terhadap rasio S/SAF, analisis isocon berbasis Python, serta perhitungan pengayaan unsur dan mass transfer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Fe terakumulasi secara masif (>50%) pada zona limonit, sedangkan Ni membentuk puncak pengayaan yang terlokalisasi pada batas limonit–saprolit. Blok BAT memiliki hubungan yang sangat kuat antara Fe, SiO?, MgO, dan derajat laterisasi, serta mengalami mass loss paling ekstrem akibat pelindian SiO? dan MgO. Berbeda dengan daerah pembanding, mass transfer Ni di Blok BAT tetap bernilai negatif pada seluruh zona, menunjukkan tidak adanya pengayaan sekunder (supergen). Dengan demikian, Blok BAT diklasifikasikan sebagai endapan besi laterit residual murni yang dicirikan oleh akumulasi Fe yang intensif dan seragam, namun memiliki kadar Ni relatif rendah akibat dominasi proses pelapukan residual.