digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Raysha Aurel Rizqyka
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia di kawasan perkotaan menuntut tersedianya ruang terbuka publik yang mampu mewadahi kegiatan, kebutuhan, dan sosiabilitas lansia. Taman Lansia Penggilingan di Kecamatan Cakung, Jakarta Timur merupakan ruang terbuka publik yang secara identitas ditujukan bagi lansia, namun kondisi fasilitas, aksesibilitas, dan pemanfaatan ruang menunjukkan bahwa fungsinya belum sepenuhnya terwujud. Penelitian ini bertujuan melakukan perancangan ulang Taman Lansia Penggilingan melalui pendekatan ramah lansia dan placemaking untuk menghasilkan kawasan yang mendukung keamanan dan kenyamanan, aksesibilitas, serta aktivitas dan sosiailitas. Analisis dilakukan melalui pendekatan kualitatif berbasis studi kasus dengan studi literatur, studi preseden, observasi lapangan, wawancara, dan kuesioner. Didapatkan hasil, perancangan taman ramah lansia berbasis placemaking perlu memperhatikan empat kriteria utama, yaitu keamanan dan kenyamanan lingkungan, dukungan aksesibilitas dan orientasi ruang, fungsi dan aktivitas, serta sosiabilitas, yang kemudian diterjemahkan ke dalam prinsip normatif perancangan. Identifikasi kondisi eksisting mengindikasikan kawasan mempunyai potensi lokasi strategis dan kemudahan akses. Namun, masih dijumpai persoalan berupa fasilitas yang kurang terawat, aksesibilitas dan sirkulasi yang belum ramah lansia, keterbatasan fasilitas pendukung aktivitas lansia, serta belum optimalnya pemanfaatan taman oleh lansia sebagai pengguna utama. Berdasarkan temuan tersebut, disusun rancangan ulang yang mengintegrasikan zona aktif dan zona pasif, sistem sirkulasi yang lebih aman dan mudah diakses, serta berbagai fasilitas pendukung bagi lansia dan pengguna lainnya. Kebaruan penelitian ini terletak pada sintesis prinsip normatif yang mengintegrasikan pendekatan ramah lansia dan placemaking sebagai dasar perancangan ulang taman. Secara akademik, penelitian ini memperkaya kajian perancangan ruang terbuka publik melalui integrasi kedua pendekatan tersebut, sedangkan secara praktis hasilnya dapat menjadi referensi dalam pengembangan ruang publik ramah lansia yang mendukung aktivitas, interaksi sosial, dan sosiabilitas pengguna.