digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Paradoks digitalisasi musik yang didominasi audio menciptakan kesenjangan sensorik ganda: eksklusi sosial bagi komunitas Tuli akibat hilangnya konteks emosi, serta hilangnya sensasi imersi fisik bagi pendengar umum. Penelitian ini bertujuan merancang sistem speaker multisensori adaptif yang menerjemahkan sinyal audio menjadi pengalaman visual, haptik, dan kinetik terintegrasi. Melalui metode mixed-method dengan triangulasi data pakar lintas disiplin dan studi pengguna, dirumuskan konsep speaker berwujud furnitur interaktif (The Resonant Bench). Sistem ini mengadopsi teknologi shape-morphing interface berbasis aktuator linier dan transduser frekuensi rendah untuk memetakan emosi lagu ke dalam pola gerak permukaan organik, cahaya ambien, dan tekstur getaran fisik secara deterministik. Solusi ini berfungsi ganda sebagai perangkat audio imersif privat dan objek sosial yang menjembatani interaksi setara antara pengguna Tuli dan Dengar, mewujudkan prinsip desain inklusif yang melampaui batasan alat bantu konvensional, sekaligus merestorasi hakikat musik sebagai pengalaman tubuh yang utuh dan menyeluruh.