Paradoks digitalisasi musik yang didominasi audio menciptakan kesenjangan
sensorik ganda: eksklusi sosial bagi komunitas Tuli akibat hilangnya konteks
emosi, serta hilangnya sensasi imersi fisik bagi pendengar umum. Penelitian ini
bertujuan merancang sistem speaker multisensori adaptif yang menerjemahkan
sinyal audio menjadi pengalaman visual, haptik, dan kinetik terintegrasi. Melalui
metode mixed-method dengan triangulasi data pakar lintas disiplin dan studi
pengguna, dirumuskan konsep speaker berwujud furnitur interaktif (The Resonant
Bench). Sistem ini mengadopsi teknologi shape-morphing interface berbasis
aktuator linier dan transduser frekuensi rendah untuk memetakan emosi lagu ke
dalam pola gerak permukaan organik, cahaya ambien, dan tekstur getaran fisik
secara deterministik. Solusi ini berfungsi ganda sebagai perangkat audio imersif
privat dan objek sosial yang menjembatani interaksi setara antara pengguna Tuli
dan Dengar, mewujudkan prinsip desain inklusif yang melampaui batasan alat
bantu konvensional, sekaligus merestorasi hakikat musik sebagai pengalaman
tubuh yang utuh dan menyeluruh.
Perpustakaan Digital ITB