Barista tunanetra menghadapi kesulitan mengidentifikasi bahan dan memahami
orientasi area kerja karena keterbatasan akses terhadap informasi visual, terutama
pada kondisi operasional berintensitas tinggi. Penelitian ini bertujuan merancang
sistem produk taktil berbasis 3D printing untuk mendukung aksesibilitas barista
tunanetra di Cafe More Bandung, sekaligus mengeksplorasi pemanfaatan material
berkelanjutan PLA+SCG (Polylactic Acid + Spent Coffee Grounds). Penelitian
menggunakan pendekatan kualitatif berorientasi Material Driven Design melalui
studi literatur, wawancara, observasi lapangan, eksperimen material, dan evaluasi
pengguna. Perancangan menghasilkan tiga produk yang membentuk satu sistem
identifikasi dan orientasi taktil berlapis (posisi tetap, shortcut tekstur, dan braille):
Tactile Syrup Dock, Tactile Powder Station, dan Tactile Spatial Marker.
Eksperimen komparatif menunjukkan bahwa sistem posisi tetap memberikan
keseimbangan akurasi dan kecepatan yang lebih baik dibandingkan sistem rotasi,
karena tidak menginterupsi alur kerja yang sudah terbangun melalui pengulangan.
Evaluasi produk final mengonfirmasi bahwa permukaan PLA+SCG memberikan
pengalaman sensorik dan estetika yang lebih kaya dan kontekstual dibandingkan
PLA konvensional, sekaligus mewujudkan siklus material tertutup sesuai prinsip
Cradle to Cradle. Namun, partikel SCG menurunkan presisi elemen braille
berukuran kecil (1,5 mm), sehingga teridentifikasi penyesuaian ke 2,5 mm sebagai
langkah korektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa PLA+SCG berpotensi
sebagai material desain taktil yang berkelanjutan, dengan catatan bahwa nilai
utamanya terletak pada keberlanjutan, estetika kontekstual, dan integrasi sistem,
bukan pada kapasitas mikrotekstur material itu sendiri sebagai pembawa
informasi
Perpustakaan Digital ITB