digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Nadhia Malika Damotino
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Ekonomi kreatif sentra industri kriya tradisional di Indonesia menghadapi penurunan struktural pasca masa kejayaan dan disrupsi era digital, namun tingkat adopsi digitalnya belum banyak dikaji secara empiris. Sentra Rajut Binong Jati di Kota Bandung yang menyusut dari 600-700 industri kecil aktif (1997-1998) menjadi 288 unit (2025) menjadi kasus strategis untuk mengkaji peran digitalisasi terhadap peningkatan daya saing dan keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan mengukur tingkat adopsi digitalisasi, mengidentifikasi faktor pendorong dan penghambatnya, serta peran digitalisasi terhadap daya saing dan keberlanjutan ekonomi kreatif sentra. Pendekatan mixed-methods digunakan melalui kuesioner Skala Likert terhadap 110 pelaku usaha yang dianalisis dengan skoring indeks adopsi, statistik deskriptif, SWOT, korelasi Pearson, regresi linear sederhana, serta wawancara mendalam dua narasumber kunci yang dikaji secara deskriptif kualitatif dan ditriangulasi dokumen kebijakan. Tingkat adopsi digitalisasi berada pada kategori Sedang (composite mean 3,09), mengindikasikan pelaku usaha berada pada fase transisi dengan kekuatan pada pemasaran digital dan kelemahan pada manajemen operasional digital. Faktor pendorong utama ialah tolerance dan tekanan pasar, sementara kebijakan menjadi penghambat utama akibat gap implementasi regulasi. Digitalisasi berkontribusi signifikan terhadap daya saing dengan menjelaskan 59,67% variasinya (R²=0,597) dan peningkatan merata pada dimensi Competitive Advantage, serta terhadap keberlanjutan dengan menjelaskan 57,48% variasinya (R²=0,575). Profil Triple Bottom Line menempatkan dampak sosial (People) lebih tinggi daripada dampak ekonomi langsung (Profit), menyiratkan digitalisasi sentra kriya tradisional lebih merupakan fenomena sosialbudaya daripada sekadar fenomena ekonomi. Kontribusi penelitian terletak pada konfirmasi Kerangka 3T Florida yang dirujuk dalam Perda Kota Bandung No. 1 Tahun 2021 menunjukkan pola Tolerance > Technology > Talent pada usaha kriya, bukan pola seragam sebagaimana diasumsikan literatur sebelumnya.