digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Muhammad Rival Abizar
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Proyek engineering, procurement and construction (EPC) menempatkan satu kontraktor sebagai penanggung jawab desain, material, dan konstruksi dengan target waktu dan biaya yang ketat. Di Indonesia banyak proyek juga bergantung pada tenaga kerja subkontraktor dan material yang disediakan pemilik, sehingga risiko koordinasi meningkat. PT Gearindo Tiga Utama (GTU) mengalami kegagalan pada proyek pemasangan pipa untuk pabrik kertas di Riau yang dikenal sebagai BM4. Tesis ini mengkaji mengapa proyek tersebut menyimpang dari rencana serta jenis sistem manajemen proyek seperti apa yang dapat menurunkan kemungkinan kegagalan. BM4 dianalisis sebagai satu kasus tunggal. Studi ini berangkat dari asumsi bahwa proyek kompleks biasanya gagal karena akumulasi pilihan manajerial, bukan satu peristiwa tunggal. Tujuannya adalah mengidentifikasi faktor kunci di balik kegagalan dengan menggunakan enam kendala proyek sebagai kerangka, menjelaskan bagaimana faktor tersebut memengaruhi jadwal, kesiapan area kerja, subkontraktor, dan arus kas, serta mengembangkan sistem manajemen proyek yang disesuaikan dengan konteks GTU. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Data diperoleh dari wawancara semi terstruktur dengan tujuh pemangku kepentingan internal serta dari dokumen pendukung proyek. Seluruh materi dikodekan berdasarkan kendala proyek, dianalisis menggunakan Current Reality Tree untuk mengaitkan gejala yang terlihat dengan akar penyebab, dan dibandingkan dengan proses terpilih dalam PMBOK Guide Sixth Edition sebagai tolak ukur praktik yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan tiga akar penyebab utama: kurangnya kepemimpinan dan disiplin proyek, ketiadaan formal change control, serta baseline jadwal dan sumber daya yang tidak realistis. Secara bersama-sama ketiganya menjelaskan berbagai kesulitan di BM4, termasuk ketidakstabilan tenaga kerja subkontraktor, masalah koordinasi, dan isu kualitas yang berulang. Tesis ini diakhiri dengan usulan sistem manajemen proyek yang praktis bagi GTU yang memperjelas rutinitas tata kelola, memperkenalkan prosedur integrated change control, dan memperkuat aturan penetapan serta pembaruan baseline untuk mendukung proyek EPC di masa mendatang.