Central Services adalah divisi yang bertanggung jawab untuk memberikan layanan dalam
mengembangkan dan konstruksi infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung operasi
penambangan di PT Freeport Indonesia (PTFI), sebuah perusahaan pertambangan multinasional
yang beroperasi di Indonesia. Pada awal 2017, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan
Peraturan Pemerintah No 1.2017 tentang pelaksanaan kegiatan pertambangan mineral yang
mewajibkan pemegang Kontrak Karya untuk mengubah kontraknya menjadi Izin Usaha
Pertambangan Khusus dan membayar bea cukai untuk dapat melakukan kegiatan ekspor. Sebagai
konsekuensinya, PTFI tidak dapat memasarkan atau mengekspor konsentrat tembaga ke pembeli
luar negeri, yang berarti PTFI tidak dapat memasarkan 60% produknya. Karena terbatasnya pasar
dalam negeri yang bisa menampung produk perusahaan, maka proses produksinya pun
disesuaikan. Kegiatan operasi yang terbatas ini telah menyebabkan pengurangan tenaga kerja di
semua divisi termasuk Central Services. Pengurangan ini dilakukan saat Central Services sedang
dalam pengembangan infrastruktur di pertambangan bawah tanah yang ditargetkan selesai dalam
waktu 3 tahun. Untuk mencapai target dengan keterbatasan waktu dan tenaga kerja, maka proses
kerjad di Central Service perlu diperbaiki agar lebih efektif dan efisien.
Tugas akhir ini membahas tentang pengurangan waktu kerja tidak di Divisi Central Services
dengan menggunakan pendekatan DMAIC. Berdasarkan observasi yang dilakukan, aktivitas tidak
produktif selama jam kerja yang besarnya mencapai 50% dari waktu kerja keseluruhan.
Menunggu kesediaan peralatan, menunggu kesediaan material, dan waktu tunggu transportasi
merupakan kontributor terbesar terhadap besarnya waktu tunggu. Produktivitas dapat terpengaruh
jika peralatan atau bahan yang dibutuhkan tidak dapat berada pada waktu dan tempat yang
seharusnya. Proses dan pasokan transportasi saat ini tidak dapat memenuhi besarnya permintaan
yang mengakibatkan kemungkinan karyawan tiba terlambat di wilayah kerja. Meminimalkan
waktu tunggu dalam 3 aspek ini akan membawa dampak yang besar.
Alat dan teknik yang mengarah ke perbaikan dijelaskan dalam makalah ini sesuai dengan lima
fase metodologi DMAIC: mendefenisikan, mengukur, menganalisis, memperbaiki, dan kontrol.
Idetifikasi peluang perbaikan dilakukan melalui observasi lapangan, Focus Group Discussion,
dan wawancara dengan perwakilan divisi. Pendekatan Manajemen Proyek digunakan untuk
menerapkan solusi yang direkomendasikan yang mencakup 8 sub-inisiatif: peningkatan
koordinasi, layanan car pool, pengaturan transportasi, sistem pelacakan material, peningkatan
proses pengadaan barang, proses pemeriksaan barang secara rutin, sistem kontrol peralatan, dan
perbaikan administrasi. Tim proyek kemudian menentukan prioritas daftar inisiatif berdasarkan
besarnya usaha yang dibutuhkan dan besarnya dampak perbaikan. Berdasarkan hasil penilaian,
tim proyek sepakat untuk menerapkan inisiatif tersebut menjadi 3 tahap agar lebih mudah
dilaksanakan.
Untuk memastikan bahwa Central Services bersedia dan mampu menerapkan proses bisnis yang
baru, manajemen perubahan dipakai sebagai pendekatan terstruktur untuk mendukung setiap
individu di Central Services untuk beralih dari proses bisnis saat ini ke proses bisnis yang lebih
baik.
Perpustakaan Digital ITB