digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Central Services adalah divisi yang bertanggung jawab untuk memberikan layanan dalam mengembangkan dan konstruksi infrastruktur yang dibutuhkan untuk mendukung operasi penambangan di PT Freeport Indonesia (PTFI), sebuah perusahaan pertambangan multinasional yang beroperasi di Indonesia. Pada awal 2017, Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah No 1.2017 tentang pelaksanaan kegiatan pertambangan mineral yang mewajibkan pemegang Kontrak Karya untuk mengubah kontraknya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus dan membayar bea cukai untuk dapat melakukan kegiatan ekspor. Sebagai konsekuensinya, PTFI tidak dapat memasarkan atau mengekspor konsentrat tembaga ke pembeli luar negeri, yang berarti PTFI tidak dapat memasarkan 60% produknya. Karena terbatasnya pasar dalam negeri yang bisa menampung produk perusahaan, maka proses produksinya pun disesuaikan. Kegiatan operasi yang terbatas ini telah menyebabkan pengurangan tenaga kerja di semua divisi termasuk Central Services. Pengurangan ini dilakukan saat Central Services sedang dalam pengembangan infrastruktur di pertambangan bawah tanah yang ditargetkan selesai dalam waktu 3 tahun. Untuk mencapai target dengan keterbatasan waktu dan tenaga kerja, maka proses kerjad di Central Service perlu diperbaiki agar lebih efektif dan efisien. Tugas akhir ini membahas tentang pengurangan waktu kerja tidak di Divisi Central Services dengan menggunakan pendekatan DMAIC. Berdasarkan observasi yang dilakukan, aktivitas tidak produktif selama jam kerja yang besarnya mencapai 50% dari waktu kerja keseluruhan. Menunggu kesediaan peralatan, menunggu kesediaan material, dan waktu tunggu transportasi merupakan kontributor terbesar terhadap besarnya waktu tunggu. Produktivitas dapat terpengaruh jika peralatan atau bahan yang dibutuhkan tidak dapat berada pada waktu dan tempat yang seharusnya. Proses dan pasokan transportasi saat ini tidak dapat memenuhi besarnya permintaan yang mengakibatkan kemungkinan karyawan tiba terlambat di wilayah kerja. Meminimalkan waktu tunggu dalam 3 aspek ini akan membawa dampak yang besar. Alat dan teknik yang mengarah ke perbaikan dijelaskan dalam makalah ini sesuai dengan lima fase metodologi DMAIC: mendefenisikan, mengukur, menganalisis, memperbaiki, dan kontrol. Idetifikasi peluang perbaikan dilakukan melalui observasi lapangan, Focus Group Discussion, dan wawancara dengan perwakilan divisi. Pendekatan Manajemen Proyek digunakan untuk menerapkan solusi yang direkomendasikan yang mencakup 8 sub-inisiatif: peningkatan koordinasi, layanan car pool, pengaturan transportasi, sistem pelacakan material, peningkatan proses pengadaan barang, proses pemeriksaan barang secara rutin, sistem kontrol peralatan, dan perbaikan administrasi. Tim proyek kemudian menentukan prioritas daftar inisiatif berdasarkan besarnya usaha yang dibutuhkan dan besarnya dampak perbaikan. Berdasarkan hasil penilaian, tim proyek sepakat untuk menerapkan inisiatif tersebut menjadi 3 tahap agar lebih mudah dilaksanakan. Untuk memastikan bahwa Central Services bersedia dan mampu menerapkan proses bisnis yang baru, manajemen perubahan dipakai sebagai pendekatan terstruktur untuk mendukung setiap individu di Central Services untuk beralih dari proses bisnis saat ini ke proses bisnis yang lebih baik.