digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia, sebagai negara kepulauan yang kaya akan suku dan budaya, memiliki praktik budaya yang sangat terikat dengan alam, di mana unsur-unsur alam, termasuk tumbuhan, sering dimanfaatkan. Salah satu tumbuhan tropis yang memegang peranan sakral adalah pohon kelapa (Cocos nucifera), yang secara filosofis melambangkan siklus kehidupan manusia. Bagian daun mudanya, yang dikenal sebagai Janur, merupakan elemen krusial dalam berbagai upacara adat di Indonesia, seperti kembar mayang dalam midodareni suku Jawa, ikat kepala Lamaksawa suku Dayak, dan berbagai sarana persembahan keagamaan pada suku Bali (canang, penjor). Khususnya di Bali, penggunaan janur sangat masif, meskipun ironisnya, hal ini menimbulkan masalah lingkungan. Walaupun prinsip Agama Hindu Bali mengajarkan Tri Hita Karana yang mencakup harmoni dengan alam (Palemahan) pengelolaan limbah janur pasca-upacara tetap belum efektif. Mengingat Bali menghasilkan ribuan ton sampah organik harian dan janur membutuhkan waktu hingga 18 bulan untuk terurai, penumpukan limbah ini mencemari lingkungan dan merusak citra kesakralan upacara adat itu sendiri. Berdasarkan permasalahan lingkungan tersebut, serta tuntutan untuk manajemen limbah yang efisien, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi limbah janur melalui pengumpulan dan analisis data limbah yang dihasilkan. Melalui riset mendalam mengenai limbah janur ini, diharapkan dapat membuka peluang untuk menjadikannya sebagai material baru yang ramah lingkungan. Studi ini juga diharapkan dapat memicu pengembangan produk inovatif dalam dunia desain, memberikan makna baru pada limbah tersebut, serta menciptakan peluang yang berdampak positif di ranah desain dan sosial.