Indonesia, sebagai negara kepulauan yang kaya akan suku dan budaya, memiliki praktik
budaya yang sangat terikat dengan alam, di mana unsur-unsur alam, termasuk tumbuhan,
sering dimanfaatkan. Salah satu tumbuhan tropis yang memegang peranan sakral adalah
pohon kelapa (Cocos nucifera), yang secara filosofis melambangkan siklus kehidupan
manusia. Bagian daun mudanya, yang dikenal sebagai Janur, merupakan elemen krusial
dalam berbagai upacara adat di Indonesia, seperti kembar mayang dalam midodareni suku
Jawa, ikat kepala Lamaksawa suku Dayak, dan berbagai sarana persembahan keagamaan
pada suku Bali (canang, penjor). Khususnya di Bali, penggunaan janur sangat masif,
meskipun ironisnya, hal ini menimbulkan masalah lingkungan. Walaupun prinsip Agama
Hindu Bali mengajarkan Tri Hita Karana yang mencakup harmoni dengan alam
(Palemahan) pengelolaan limbah janur pasca-upacara tetap belum efektif. Mengingat Bali
menghasilkan ribuan ton sampah organik harian dan janur membutuhkan waktu hingga
18 bulan untuk terurai, penumpukan limbah ini mencemari lingkungan dan merusak citra
kesakralan upacara adat itu sendiri.
Berdasarkan permasalahan lingkungan tersebut, serta tuntutan untuk manajemen limbah
yang efisien, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi limbah janur melalui
pengumpulan dan analisis data limbah yang dihasilkan. Melalui riset mendalam mengenai
limbah janur ini, diharapkan dapat membuka peluang untuk menjadikannya sebagai
material baru yang ramah lingkungan. Studi ini juga diharapkan dapat memicu
pengembangan produk inovatif dalam dunia desain, memberikan makna baru pada limbah
tersebut, serta menciptakan peluang yang berdampak positif di ranah desain dan sosial.
Perpustakaan Digital ITB