Petani kopi skala kecil di Desa Tenjolaya, Ciwidey menghadapi kesenjangan
keberdayaan pascapanen yang nyata di tengah potensi ekonomi kopi specialty
dataran tinggi yang terus berkembang. Mayoritas anggota Kelompok Tani masih
cenderung menjual seluruh hasil panen langsung dalam bentuk ceri akibat
minimnya kesadaran atas pentingnya pengolahan pascapanen, sehingga
melepaskan potensi nilai ekonomis yang seharusnya dapat mereka nikmati sendiri.
Di antara seluruh tahap pengolahan pascapanen, proses pengeringan diidentifikasi
sebagai tahap yang paling menentukan keberdayaan pascapanen sekaligus paling
rentan terhadap variabilitas cuaca, mengingat periodenya yang paling Panjang,
ketergantungannya terhadap variabilitas cuaca dalam proses pengeringan dan
kebutuhannya atas kondisi terkontrol agar tidak terjadi degradasi kualitas kopi.
Solusi pengeringan yang tersedia saat ini belum mampu menjawab kebutuhan
petani skala kecil secara tepat. Inovasi akar rumput menggunakan terpal dan nyiru
memiliki risiko tinggi atas degradasi kualitas akibat paparan variabilitas cuaca yang
tidak terkontrol. Sementara itu, sarana greenhouse yang didistribusikan melalui
bantuan pemerintah mensyaratkan lahan permanen dan kerelaan anggota kelompok
tani untuk menyumbangkan lahannya secara komunal, menjadikannya tidak sesuai
bagi kelompok yang baru memulai pengolahan pascapanen. Kesenjangan antara
kebutuhan nyata petani dengan solusi yang tersedia inilah yang menjadi landasan
pengembangan desain dalam penelitian ini.
Penelitian ini bertujuan mengembangkan desain sarana pengering kopi yang sesuai
dengan kemampuan, keterbatasan, dan pola kebiasaan petani skala kecil, dengan
fokus pada peningkatan keberdayaan pascapanen pengeringan dan ketahanan
terhadap variabilitas cuaca. Pendekatan perancangan bertolak dari inovasi
pengeringan lokal yang telah berakar di kalangan petani, kemudian dikembangkan
menjadi sarana yang mampu memberikan kondisi pengeringan terkontrol secara
portabel dan temporer. Pengeringan yang tepat hingga kadar air 11% pada green
beans menjadi sasaran teknis utama, guna menjadikan hasil panen sebagai
komoditas bernilai yang dapat disimpan dan dijual secara strategis sepanjang tahun.
Hasil penelitian berupa desain produk pengering kopi portabel yang diberi nama
Pimoe, yang lahir dari inovasi pengeringan lokal petani dan bersifat adaptif secara
ruang dengan kemampuan penggunaan di halaman depan rumah, atap rumah,
maupun lahan anggota kelompok tani secara temporer. Pimoe mengakomodasi
pengaturan sirkulasi udara, teduhan sinar matahari, pengurangan kelembapan
udara, serta optimalisasi ruang melalui konfigurasi bertingkat yang dapat dibuka
memanjang saat digunakan dan ditumpuk meramping untuk penyimpanan di dalam
rumah. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan aspek portabilitas,
adaptivitas terhadap variabilitas cuaca, dan ketepatan sosial terhadap realitas
keterbatasan petani skala kecil dalam satu rancangan desain, berbeda dari
pendekatan infrastruktur permanen yang selama ini mendominasi intervensi
pascapanen. Dengan keberdayaan pengeringan yang meningkat melalui Pimoe,
petani dapat mengolah hasil panennya hingga green beans berkualitas specialty,
membuka akses terhadap pasar bernilai lebih tinggi sekaligus membangun
ketahanan ekonomi rumah tangga tani yang lebih berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB