digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Petani kopi skala kecil di Desa Tenjolaya, Ciwidey menghadapi kesenjangan keberdayaan pascapanen yang nyata di tengah potensi ekonomi kopi specialty dataran tinggi yang terus berkembang. Mayoritas anggota Kelompok Tani masih cenderung menjual seluruh hasil panen langsung dalam bentuk ceri akibat minimnya kesadaran atas pentingnya pengolahan pascapanen, sehingga melepaskan potensi nilai ekonomis yang seharusnya dapat mereka nikmati sendiri. Di antara seluruh tahap pengolahan pascapanen, proses pengeringan diidentifikasi sebagai tahap yang paling menentukan keberdayaan pascapanen sekaligus paling rentan terhadap variabilitas cuaca, mengingat periodenya yang paling Panjang, ketergantungannya terhadap variabilitas cuaca dalam proses pengeringan dan kebutuhannya atas kondisi terkontrol agar tidak terjadi degradasi kualitas kopi. Solusi pengeringan yang tersedia saat ini belum mampu menjawab kebutuhan petani skala kecil secara tepat. Inovasi akar rumput menggunakan terpal dan nyiru memiliki risiko tinggi atas degradasi kualitas akibat paparan variabilitas cuaca yang tidak terkontrol. Sementara itu, sarana greenhouse yang didistribusikan melalui bantuan pemerintah mensyaratkan lahan permanen dan kerelaan anggota kelompok tani untuk menyumbangkan lahannya secara komunal, menjadikannya tidak sesuai bagi kelompok yang baru memulai pengolahan pascapanen. Kesenjangan antara kebutuhan nyata petani dengan solusi yang tersedia inilah yang menjadi landasan pengembangan desain dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengembangkan desain sarana pengering kopi yang sesuai dengan kemampuan, keterbatasan, dan pola kebiasaan petani skala kecil, dengan fokus pada peningkatan keberdayaan pascapanen pengeringan dan ketahanan terhadap variabilitas cuaca. Pendekatan perancangan bertolak dari inovasi pengeringan lokal yang telah berakar di kalangan petani, kemudian dikembangkan menjadi sarana yang mampu memberikan kondisi pengeringan terkontrol secara portabel dan temporer. Pengeringan yang tepat hingga kadar air 11% pada green beans menjadi sasaran teknis utama, guna menjadikan hasil panen sebagai komoditas bernilai yang dapat disimpan dan dijual secara strategis sepanjang tahun. Hasil penelitian berupa desain produk pengering kopi portabel yang diberi nama Pimoe, yang lahir dari inovasi pengeringan lokal petani dan bersifat adaptif secara ruang dengan kemampuan penggunaan di halaman depan rumah, atap rumah, maupun lahan anggota kelompok tani secara temporer. Pimoe mengakomodasi pengaturan sirkulasi udara, teduhan sinar matahari, pengurangan kelembapan udara, serta optimalisasi ruang melalui konfigurasi bertingkat yang dapat dibuka memanjang saat digunakan dan ditumpuk meramping untuk penyimpanan di dalam rumah. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggabungan aspek portabilitas, adaptivitas terhadap variabilitas cuaca, dan ketepatan sosial terhadap realitas keterbatasan petani skala kecil dalam satu rancangan desain, berbeda dari pendekatan infrastruktur permanen yang selama ini mendominasi intervensi pascapanen. Dengan keberdayaan pengeringan yang meningkat melalui Pimoe, petani dapat mengolah hasil panennya hingga green beans berkualitas specialty, membuka akses terhadap pasar bernilai lebih tinggi sekaligus membangun ketahanan ekonomi rumah tangga tani yang lebih berkelanjutan.