istem Pertanian Pintar (Smart Farming) menjanjikan efisiensi tinggi, namun
implementasinya mengalami stagnasi pada kelompok tani perorangan skala kecil
akibat ketidaksesuaian desain dengan realitas infrastruktur pedesaan. Di Desa
Cidadap, anomali iklim mikro harian memicu tingginya risiko luntur (wash-off)
pestisida yang mengakibatkan kerugian ekonomi riil bagi petani lahan kering.
Perangkat pemantauan komersial eksisting terbukti gagal diadopsi karena
ketergantungan absolut pada internet dan listrik konstan, biaya investasi individual
yang tinggi, antarmuka digital yang rumit, serta bentuk fisik steril yang memicu
alienasi estetika. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ekosistem stasiun
cuaca komunal portabel guna memitigasi risiko cuaca mikro melalui paradigma
Teknologi Tepat Guna.
Penelitian menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode Action Research
yang berpusat pada Siklus Desain Partisipatoris. Melalui proses ko-kreasi yang
melibatkan kelompok tani lokal dan konsultasi ahli BMKG, temuan lapangan
diterjemahkan ke dalam batasan desain fungsional, ekonomi, konektivitas,
interaksi, dan fisik.
Hasil perancangan membuahkan ekosistem Huma, yang terdiri dari perangkat
keras stasiun cuaca dan sensor tanah pendamping. Inovasi arsitektur data
bertumpu pada sistem luring penuh (offline-first) dengan pemrosesan lokal (edge
computing) dan transmisi Bluetooth, membebaskan petani dari ketergantungan
sinyal seluler. Secara fisik, perangkat mengadopsi bentuk poertabel jinjing
berbalut warna gelap matte yang adaptif terhadap kerasnya lingkungan saung,
serta memanfaatkan sistem modular snap-buckle untuk kemandirian perbaikan.
Pada aspek ergonomi kognitif, antarmuka aplikasi mereduksi beban pikiran
pengguna dengan membalik hierarki data numerik menjadi panduan instruksi
taktis visual yang dapat dipahami dalam waktu kurang dari lima detik.
Pendekatan kepemilikan inovasi sosial berupa tata kelola komunal (shared
ownership) berhasil menekan estimasi biaya material purwarupa hingga menjadi
alat yang terjangkau bagi kelompok tani. Penelitian ini membuktikan bahwa
perpaduan antara rekayasa bentuk, penyederhanaan antarmuka luring, dan
pemanfaatan modal sosial gotong royong mampu mendemokratisasi akses
teknologi pertanian presisi yang tangguh, terjangkau, dan bermakna bagi
keseharian petani gurem.
Perpustakaan Digital ITB