Hadirnya ancaman krisis iklim turut mendorong upaya global untuk menerapkan pembangunan berkelanjutan, dengan pasar modal menjadi salah satu medium paling penting bagi implementasi keuangan hijau untuk mendanai berbagai proyek pembangunan berkelanjutan tersebut. Komitmen Indonesia untuk menjadi negara bebas karbon (net zero) pada tahun 2060 telah memicu pengembangan instrumen investasi hijau, termasuk Sukuk Tabungan Hijau (Green Savings Sukuk). Meskipun lebih dari separuh investor pasar modal Indonesia merupakan Generasi Z, partisipasi mereka dalam instrumen investasi hijau tetap lebih rendah jika dibandingkan dengan generasi lain. Padahal, Generasi Z dianggap sebagai generasi dengan tingkat kesadaran lingkungan paling tinggi. Meskipun kesadaran lingkungan terbukti dimiliki oleh kalangan Generasi Z, terdapat kesenjangan signifikan antara sikap (attitude) dengan perilaku (behavior) investasi mereka. Penelitian ini lantas berupaya untuk mengkaji kesenjangan antara sikap dengan perilaku ini dengan menyelidiki bagaimana green literacy memengaruhi niat investasi Generasi Z terhadap produk keuangan hijau, khususnya melalui lensa teoritis Theory of Planned Behavior.
Penelitian ini menerapkan desain mixed-methods yang menggabungkan analisis konten (content analysis) kualitatif dari materi promosi dengan pemodelan persamaan struktural kuantitatif (SEM). Analisis kualitatif dalam penelitian ini menelaah konten promosi Instagram dari platform investasi dan perusahaan sekuritas dalam rangka mengidentifikasikan praktik industri terkini dalam mengomunikasikan informasi investasi hijau kepada Generasi Z. Sementara itu, bagian analisis kuantitatif menggunakan metode SEM-PLS untuk menguji enam hipotesis yang melibatkan hubungan antara green literacy, perceived benefits, sikap (attitude), subjective norms, perceived behavioral control, dan niat investasi hijau (green investing intention). Dengan demikian, kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini berupaya untuk mengembangkan Theory of Planned Behavior dengan menggabungkan green literacy sebagai variabel eksternal yang penting dalam memengaruhi pembentukan sikap (attitude) dan niat investasi langsung (direct investment intention).
Hasil dari penelitian ini mendapati bahwa green literacy muncul sebagai prediktor terkuat di antara variabel lain dengan menunjukkan pengaruh yang besar pada pembentukan sikap. Perceived benefits lantas secara signifikan membentuk sikap positif terhadap investasi hijau. Selanjutnya, sikap (attitude) secara positif memengaruhi niat investasi, kendati hubungannya bersifat moderat. Subjective norms, khususnya pengaruh media sosial dan rekomendasi teman sebaya, secara signifikan turut dapat memprediksi niat investasi di kalangan Generasi Z. Namun, perceived behavioral control yang menunjukkan pengaruh tidak signifikan pada niat investasi mengindikasikan bahwa kepercayaan diri serta ketersediaan sumber daya finansial bukan merupakan hambatan utama untuk membentuk niat berinvestasi. Selain itu, penting untuk menggarisbawahi bahwa turut terdapat disparitas yang antara strategi promosi platform investasi dengan hasil analisis. Ini mengindikasikan bahwa penerapan strategi promosi yang memuat green literacy, melingkupi aspek finansial dan keberlanjutan lingkungan, dapat menjadi strategi yang lebih efektif.
Penelitian ini lantas berkontribusi untuk memperkaya literatur dalam lingkup keuangan berkelanjutan dengan memberikan bukti empiris tentang peran penting green literacy dalam membentuk perilaku investasi hijau di kalangan Generasi Z. Temuan tersebut menjadi wawasan yang dapat ditindaklanjuti bagi platform investasi, perusahaan sekuritas, dan lembaga keuangan mengenai kebutuhan akan program pendidikan green literacy secara komprehensif yang mengintegrasikan pengetahuan keuangan dengan pemahaman keberlanjutan lingkungan. Dengan meningkatkan green literacy melalui konten edukasi yang ditujukan secara tepat, platform investasi dapat memperkuat sikap Generasi Z terhadap investasi berkelanjutan dan mengubah nilai dan prinsip kelingkungan mereka menjadi keputusan investasi yang nyata. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mengatasi kesenjangan antara sikap dengan perilaku, tidak hanya dibutuhkan peningkatan kesadaran tentang adanya peluang investasi hijau, tetapi juga peningkatan literasi keuangan dan lingkungan untuk memungkinkan pengambilan keputusan investasi yang terinformasi dan sejalan dengan nilai dan prinsip yang dimiliki.
Perpustakaan Digital ITB