PT Pertamina Hulu Energi (PHE), sebagai Subholding Upstream Pertamina, menghadapi tantangan utama berupa penurunan produksi alamiah pada lapangan mature, risiko integritas aset, volatilitas harga komoditas, dan peningkatan biaya operasi. Kondisi tersebut menuntut Dewan Komisaris (BoC) untuk memusatkan perhatian pengawasan pada isu yang paling memengaruhi laba bersih setelah pajak (NPAT) dan pencapaian Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan memprioritaskan tantangan bisnis PHE serta merancang sistem pengawasan BoC yang efektif. Penelitian menggunakan pendekatan sequential exploratory mixed-methods. Tahap kualitatif menggabungkan kajian dokumen perusahaan dan empat belas wawancara semi-terstruktur dengan anggota BoC, eksekutif, dan subject-matter experts. Tahap kuantitatif menggunakan Best-Worst Method (BWM) terhadap dua belas responden berdasarkan lima kriteria: Impact, Urgency, Probability, Detectability, dan Controllability. Penelitian mengidentifikasi lima belas tantangan bisnis dan tujuh kelemahan dalam proses pengawasan. Impact menjadi kriteria dengan bobot tertinggi. Seluruh tantangan kemudian dikelompokkan ke dalam tiga tingkat prioritas, yaitu empat tantangan Tier 1, tujuh Tier 2, dan empat Tier 3. Hasil penelitian diterjemahkan menjadi Tiered BoC Oversight System yang terdiri atas rencana kerja bertingkat, monitoring toolkit, escalation and contingency protocol, serta enabling conditions. Sistem ini diintegrasikan ke dalam arsitektur pengawasan PHE untuk mendukung proses pengawasan yang lebih terfokus, antisipatif, dan akuntabel.
Perpustakaan Digital ITB