digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


RATU NABILA PUTRI FIRDAUS
EMBARGO  2029-02-06 

RATU NABILA PUTRI FIRDAUS
EMBARGO  2029-02-06 

RATU NABILA PUTRI FIRDAUS
EMBARGO  2029-02-06 

RATU NABILA PUTRI FIRDAUS
EMBARGO  2029-02-06 

RATU NABILA PUTRI FIRDAUS
EMBARGO  2029-02-06 

RATU NABILA PUTRI FIRDAUS
EMBARGO  2029-02-06 


Pati merupakan polisakarida yang tersusun atas ?-D-glukosa yang mudah terhidrolisis pada saluran pencernaan. Pembentukan kompleks inklusi merupakan salah satu pendekatan yang diharapkan mampu menurunkan laju hidrolisis pati. Senyawa turunan asam butirat merupakan asam lemak rantai pendek yang berpotensi sebagai agen anti-obesitas. Namun, senyawa butirat memiliki kelemahan, seperti bau dan rasa yang tidak sedap serta kestabilan yang rendah. Penelitian ini bertujuan membuat kompleks inklusi antara pati dengan senyawa turunan asam butirat (etil butirat, metil butirat, butil butirat, propil butirat, sodium butirat, dan asam butirat) serta melakukan karakterisasi fisikokimia dan studi pencernaan in vitro. Kompleks pati–butirat dibuat dengan variasi konsentrasi molekul tamu sebesar 3, 5, 7, dan 9% (b/b terhadap massa pati). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompleks inklusi pati–butirat berhasil dibuat, yakni berdasarkan data karakterisasi Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), mikroskop polarisasi, Scanning Electron Microscopy (SEM), X-ray Diffraction (XRD), uji derajat penggembungan, dan uji degradasi enzimatis menggunakan ?-amilase. Berdasarkan spektrum FTIR, puncak dari senyawa butirat tidak muncul pada spektrum kompleks inklusi pati. Hal ini menandakan terbentuknya kompleks inklusi pati dengan senyawa butirat yang berada di dalam rongga amilosa. Hal ini didukung oleh citra mikroskop polarisasi dan SEM yang menunjukkan adanya perbedaan polarisasi dan morfologi antara pati dengan kompleks pati–butirat. Berdasarkan analisis XRD, diperoleh bahwa kompleks pati–butirat memiliki struktur yang dominan amorf. Melalui pengujian derajat penggembungan, diperoleh derajat penggembungan kompleks pati-butirat (20–25 mL/g) lebih rendah dibandingkan dengan pati (28–31 mL/g). Berdasarkan studi pencernaan in vitro melalui uji degradasi enzimatis, diperoleh bahwa kompleks pati–butirat memiliki ketahanan hidrolisis yang lebih kuat dibandingkan dengan pati. Pada waktu tak hingga, pati terhidrolisis hingga 83%, sedangkan kompleks pati-butirat hanya terhidrolisis sebesar 27–53%. Kompleks pati–butirat berhasil menunjukkan penurunan laju hidrolisis pati. Hal ini menjadikan kompleks inklusi pati–butirat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pati lambat cerna. Kata kunci: kompleks inklusi, pati, studi pencernaan