digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Rare earth elements (REE) merupakan komoditas strategis untuk teknologi maju dan transisi energi. Di Indonesia, REE banyak dijumpai pada sistem pelapukan granitoid di lingkungan tropis, tetapi keterkaitan antara sumber, proses pelapukan, media retensi, dan sebaran spasialnya masih terbatas. Penelitian ini menyusun model konseptual genetik REE pada Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan Bangka–Belitung melalui integrasi geokimia (XRF dan ICP-MS), mineralogi (petrografi/mineragrafi dan XRD), serta pengindraan jauh (Sentinel-2). Mineral pembawa REE dominan yang teridentifikasi meliputi monazite, allanite, zircon, xenotime, serta fase sekunder (kaolinite–halloysite dan oksida/hidroksida Fe–Al) sebagai media retensi. Data geokimia yang heterogen dianalisis menggunakan PCA, korelasi non-parametrik (spearman), dan klasterisasi untuk mengungkap asosiasi REE dengan derajat pelapukan dan fase mineral pembawanya pada horizon O–A–B–C. Hasil menunjukkan dua sistem utama: (i) ion-adsorption pada regolit granitoid (Kalbar–Sulbar–Bangka) yang dikontrol pelepasan REE dari mineral aksesori dan retensi pada lempung/oksihidroksida, serta (ii) placer/pengolahan di Bangka–Belitung yang menghasilkan anomali lokal sangat tinggi akibat pengayaan mineral berat. Secara spasial, integrasi NDVI sebagai kontrol vegetasi dan Clay Mineral Index (CMI) sebagai indikator relatif lempung/alterasi digunakan untuk menyeleksi zona permukaan yang berpotensi, dan diverifikasi dengan data mineralogi–geokimia. Model konseptual yang dihasilkan menjelaskan mekanisme pembentukan, pengayaan, serta pola distribusi REE secara vertikal dan lateral pada wilayah studi.