Rare earth elements (REE) merupakan komoditas strategis untuk teknologi maju
dan transisi energi. Di Indonesia, REE banyak dijumpai pada sistem pelapukan
granitoid di lingkungan tropis, tetapi keterkaitan antara sumber, proses pelapukan,
media retensi, dan sebaran spasialnya masih terbatas. Penelitian ini menyusun
model konseptual genetik REE pada Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, dan
Bangka–Belitung melalui integrasi geokimia (XRF dan ICP-MS), mineralogi
(petrografi/mineragrafi dan XRD), serta pengindraan jauh (Sentinel-2). Mineral
pembawa REE dominan yang teridentifikasi meliputi monazite, allanite, zircon,
xenotime, serta fase sekunder (kaolinite–halloysite dan oksida/hidroksida Fe–Al)
sebagai media retensi. Data geokimia yang heterogen dianalisis menggunakan
PCA, korelasi non-parametrik (spearman), dan klasterisasi untuk mengungkap
asosiasi REE dengan derajat pelapukan dan fase mineral pembawanya pada horizon
O–A–B–C. Hasil menunjukkan dua sistem utama: (i) ion-adsorption pada regolit
granitoid (Kalbar–Sulbar–Bangka) yang dikontrol pelepasan REE dari mineral
aksesori dan retensi pada lempung/oksihidroksida, serta (ii) placer/pengolahan di
Bangka–Belitung yang menghasilkan anomali lokal sangat tinggi akibat pengayaan
mineral berat. Secara spasial, integrasi NDVI sebagai kontrol vegetasi dan Clay
Mineral Index (CMI) sebagai indikator relatif lempung/alterasi digunakan untuk
menyeleksi zona permukaan yang berpotensi, dan diverifikasi dengan data
mineralogi–geokimia. Model konseptual yang dihasilkan menjelaskan mekanisme
pembentukan, pengayaan, serta pola distribusi REE secara vertikal dan lateral pada
wilayah studi.
Perpustakaan Digital ITB