digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Wilayah Jawa Barat merupakan pusat industri Indonesia yang menyumbang sepertiga perekonomian nasional dan mengonsumsi energi terbesar. Sektor manufaktur maupun pembangkitan listrik di wilayah ini sangat bergantung pada gas bumi, dengan total permintaan mencapai sekitar 1.120 MMSCFD, atau sekitar 34% dari total permintaan nasional. Pada tanggal 5 Agustus 2025, kebakaran dan ledakan di lapangan gas di Subang mengakibatkan sekitar 65 MMSCFD pasokan gas berkurang sehingga menghadapkan wilayah ini pada defisit pasokan gas yang kian memburuk akibat produksi hulu yang menurun sementara pusat permintaan yang terus tumbuh. Karena kondisi ini mengancam daya saing industri, keandalan kelistrikan, dan ketahanan energi nasional, maka diperlukan kajian sistematis untuk mengatasi hal tersebut. Kajian ini membahas bagaimana sektor midstream migas dapat mengusulkan alternatif proyek untuk mengatasi defisit tersebut melalui infrastruktur interkoneksi yang menghubungkan Jawa Barat dengan wilayah-wilayah surplus gas, dengan menganalisis kriteria apa yang memengaruhi pemilihan proyek, bagaimana proyek-proyek alternatif diprioritaskan, dan bagaimana perubahan parameter gas memengaruhi opsi tersebut. Kajian ini menggunakan desain metode campuran (mixed method) yang berurutan. Tahap kualitatif dilakukan dengan memadukan wawancara semi-terstruktur dan perangkat lunak analisis data kualitatif berbantuan komputer (computer-aided qualitative data analysis software/CAQDAS) untuk mengodekan dan mengidentifikasi kriteria yang diprioritaskan oleh para responden. Tahap kuantitatif kemudian menerapkan Analytic Hierarchy Process (AHP) untuk membobot kriteria tersebut, memeringkat alternatif berdasarkan agregasi penilaian individual setiap responden, dan menggunakan simulasi Monte Carlo untuk menguji ketangguhan komersial proyek terpilih terhadap volatilitas harga. Empat kriteria terbukti yang menentukan: Fleksibilitas Pasokan Gas, Skenario Tarif , Keandalan Layanan, dan Keandalan Infrastruktur. Fleksibilitas Pasokan Gas dan Skenario Tarif memiliki bobot dominan yang nyaris setara. Tiga proyek alternatif dievaluasi: Pipa Transmisi Cisem-2, Jumper Line Cilamaya, dan pipa Sumatera Utara-Riau. Jumper Line Cilamaya menempati peringkat tertinggi karena proyeknya berbiaya rendah dan penawaran tarifnya menarik, Cisem-2 di peringkat kedua karena menjadi tulang punggung jangka panjang yang paling andal, dan Sumatera Utara-Riau di peringkat terakhir. Oleh karena itu, Jumper Line Cilamaya direkomendasikan sebagai solusi jangka pendek yang terjangkau, dan Cisem-2 sebagai tulang punggung strategis jangka panjang. Uji sensitivitas memastikan total biaya gas untuk proyek yang direkomendasikan tetap layak secara komersial pada rentang harga realistis harga minyak.