digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Logistik merupakan sektor strategis yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Untuk mencapai Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan penurunan biaya logistik nasional menjadi 8% dari PDB. Mengikuti agenda transformasi BUMN, NusaPost ditunjuk menjadi perusahaan induk (holding) logistik angkutan jalan. Peran baru ini mendorong transformasi internal NusaPost dari perusahaan pos menjadi orkestrator logistik 4PL, yang mengelola arus logistic, modal, dan informasi. Namun, NusaPost menghadapi kendala akibat keterbatasan regulasi dalam penyediaan layanan keuangan seperti pemberian pinjaman langsung serta keterbatasan modal internal. Studi ini menunjukan pola inefisiensi operasional NusaPost pada proyek berskala besar yang menciptakan beban kas riil tinggi dan membakar kas internal sebesar Rp4,3 miliar. Kondisi ini menyebabkan masalah likuiditas dan kesenjangan pendanaan (funding gap) sebesar Rp39 miliar, hingga menghambat eksekusi proyek-proyek potensial. Untuk mengatasi masalah ini, studi mengusulkan adopsi peran Logistics Financier guna mengaktifkan mekanisme Supply Chain Finance (SCF)—khususnya Purchase Order Finance dan Reverse Factoring—untuk menjembatani kesenjangan pendanaan dan mengoptimalkan modal kerja. Studi ini menggunakan mixed-method dan pendekatan simulasi yang dikombinasikan dengan analisis sensitivitas dan skenario, mendemonstrasikan bahwa implementasi SCF secara holistik (skenario B) tidak hanya membuka pendanaan eksternal, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional secara signifikan. Simulasi menunjukan ekspektasi laba bersih sebesar Rp12,8 miliar dengan marjin laba bersih lebih tinggi dibandingkan skenario tanpa efisiensi modal kerja. Namun, model menunjukan sensitivitas yang tinggi terhadap profitabilitas operasional. Meskipun implementasi SCF layak secara finansial, strategi ini memiliki potensi kerugian sebesar Rp800 juta jiga marjin proyek tidak dijaga dengan ketat. Studi menyimpulkan bahwa meskipun SCF adalah penggerak (enabler) yang kuat, keberhasilannya sangat bergantung pada disiplin operasional yang ketat dan prioritas segmen yang strategis.