Penelitian ini menganalisis tingkat brand awareness dan brand identity Papermark, sebuah merek alat tulis kreatif berbasis di Jakarta, melalui perumusan rekomendasi strategis untuk meningkatkan daya saing di industri gaya hidup dan alat tulis di Indonesia. Meskipun mengalami pertumbuhan yang konsisten, Papermark masih menghadapi tantangan dalam visibilitas merek, jangkauan digital, serta interaksi pelanggan di tengah persaingan dengan merek baru maupun yang telah mapan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor utama yang memengaruhi brand awareness, mengidentifikasi kesenjangan antara persepsi internal perusahaan dan pengalaman konsumen, serta merumuskan strategi untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan. Metode kualitatif dan kuantitatif digunakan untuk memberikan evaluasi mendalam terhadap tantangan yang dihadapi merek serta peluang pengembangannya.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed-methods yang mengombinasikan teknik kuantitatif dan kualitatif. Tahap kuantitatif dilakukan melalui survei daring yang dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan uji reliabilitas, sementara tahap kualitatif dilakukan melalui wawancara terstruktur dengan pemangku kepentingan internal, pelanggan loyal, dan calon konsumen. Survei mengukur persepsi konsumen terhadap daya tarik visual Papermark, fungsi produk, fitur personalisasi, visibilitas digital, serta tingkat pengingatan merek. Pendekatan ini menghasilkan evaluasi komprehensif terhadap kinerja merek Papermark dari berbagai perspektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Papermark dipersepsikan secara positif dari segi kualitas produk dan konsistensi desain visual. Namun, tingkat brand awareness masih terbatas akibat lemahnya keterlibatan digital dan minimnya upaya pembentukan komunitas. Sebagian besar konsumen mengenal Papermark melalui kanal offline dibandingkan pemasaran digital. Selain itu, audiens yang lebih muda cenderung mengaitkan merek alat tulis dengan aktivitas digital yang kuat, konten interaktif, dan kolaborasi kreatif, yang hingga saat ini belum dimanfaatkan secara optimal oleh Papermark.
Hasil wawancara mengindikasikan adanya fokus yang lebih kuat pada aspek operasional dibandingkan pembangunan merek jangka panjang, yang berkaitan dengan belum adanya struktur pemasaran yang jelas. Meskipun pelanggan loyal menghargai identitas visual Papermark, kekuatan tersebut belum dikomunikasikan secara efektif. Calon konsumen menilai produk Papermark menarik, namun menyoroti keterbatasan dampak merek dalam lingkungan digital yang didominasi oleh tren dan konten berbasis influencer.
Penelitian ini merekomendasikan strategi pembangunan merek yang berfokus pada penguatan komunitas digital untuk meningkatkan brand awareness dan loyalitas, melalui konten yang konsisten dan berlandaskan identitas merek, kolaborasi dengan komunitas kreatif, aktivasi konten buatan pengguna (user-generated content), serta praktik keterlibatan yang lebih interaktif. Pengembangan storytelling merek, visibilitas pencarian, serta integrasi kanal online dan offline diarahkan untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang terpadu dan mendukung pertumbuhan merek jangka panjang.
Penelitian ini memberikan panduan praktis bagi UMKM kreatif dalam meningkatkan visibilitas digital tanpa mengorbankan keaslian merek, serta mendukung keselarasan Papermark dengan perubahan ekspektasi pasar di industri alat tulis kreatif Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB