digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

COVER Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 1 Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 2 Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 3 Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 4 Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

BAB 5 Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

PUSTAKA Rifqi Ramadhan Tussardi
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Mengingat lingkungan cybersecurity yang rumit akibat pesatnya perkembangan teknologi digital, teknologi perlindungan tingkat lanjut sangat diperlukan. Tingkat kesiapan cybersecurity di Indonesia masih belum merata, di mana banyak organisasi beroperasi pada tingkat kematangan (maturity level) yang rendah dan sangat rentan terhadap ancaman. Studi ini berfokus pada salah satu perusahaan TIK terkemuka di Indonesia yang menghadapi masalah skor dasar Cyber Maturity Assessment (CMA) yang rendah, yaitu 1.44, yang menunjukkan postur keamanan yang ad hoc dan reaktif. Untuk memverifikasi perubahan yang terukur, studi ini bertujuan mengidentifikasi masalah mendasar yang menyebabkan skor rendah, menyusun rencana perbaikan yang terfokus, dan menilai keberhasilan kegiatan yang telah diimplementasikan. Penelitian ini menggunakan desain riset campuran, yaitu kualitatif-kuantitatif. Data kualitatif dikumpulkan melalui Focus Group Discussions (FGDs) dengan stakeholders terpilih dan penilaian menyeluruh terhadap dokumentasi internal organisasi. Sementara itu, analisis kuantitatif menggunakan formula penilaian Cyber Maturity Assessment (CMA) dari Global Consulting Company untuk menilai domain-domain kerangka kerja dalam peringkat kematangan maturity ratings. Berdasarkan hasil ini, dibuatlah solusi bisnis yang terfokus dan strategi implementasi menyeluruh untuk meningkatkan kematangan siber. Diagnosis awal menemukan kesenjangan kritis di setiap domain. Domain Legal and Compliance (Hukum dan Kepatuhan) dan Business Continuity Management (Manajemen Kelangsungan Bisnis) mendapatkan skor terendah karena rencana pemulihan yang belum teruji dan kurangnya proses berbasis teknologi yang terformalisasi. Sebagai respons, dikembangkan roadmap prioritas selama tiga tahun, yang berfokus pada dokumentasi dan integrasi strategis. Setelah inisiatif-inisiatif ini diterapkan dan divalidasi melalui evaluasi, skor kematangan total organisasi meningkat dari 1.44 menjadi 2.50. Studi ini menyimpulkan bahwa implementasi peta jalan secara sistematis dan bertahap terbukti sangat efektif, berhasil memvalidasi pendekatan tesis untuk meningkatkan kematangan siber. Studi ini menawarkan landasan yang bermanfaat bagi perusahaan TIK untuk beralih dari postur keamanan yang ad hoc dan reaktif menjadi postur yang Defined (Terdefinisi) dan Managed (Terkelola). Hasil ini juga menunjukkan bahwa meskipun domain operasional dapat ditingkatkan secara signifikan, domain strategis seperti Legal and Compliance memerlukan komitmen berkelanjutan dari eksekutif setelah dokumentasi awal untuk mencapai kematangan penuh (full maturity).