digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Jernip Kencana merupakan sebuah usaha keluarga yang telah beroperasi sejak 1996 di Kuningan, Jawa Barat, meproduksi sirup jeruk nipis alami melaui bisnis UMKM. Meskipun mendapatkan ulasan pelanggan yang sangat baik dengan rating antara 4,2 hingga 4,8 daris kala 5,0, Perusahaan mengalami penurunan penjualan yang drastic sebesar 61,7% dari kuartal kedua 2021 hingga kuartal keempat 2024. Perusahaan mempertahankan posisinya sebagai pioneer dengan pengalaman 29 tahun di industry ini, namun menghadapi tantangan pemasaran yang serius dimana kualitas produk yang sangat baik tidak diimbangi dengan eprforma penjualan yang memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mnegidentifikasi akar peneybab penurunan penjualan dan mengembanngkan startegi pemasaran yang komprehensif dan dapat diimpelementasikan oleh UMKM. Tujuan spesifik penelitian mencakup analisis factor internal dan eksternal yang mempengaruhi startegi pemasaran, segmentasi dan identifikasi target pasar yang paling pontesial, pengembangan positioning yang tepat untuk membedakan Jernip Kencana dari kompetitor, serta merumuskan rekomendasi tsrategi pemasaran yang actionable. Penelitian ini menggunakan desian mixed-method dengan mengombinasikan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pemilik dan staf, observasi langsung, serta kuesioner terhadap 285 responden yang dipilih secara purposive di wilayah Kuningan, Bandung, dan Jbodetabek. Analisis ini dilakukan menggunakan K-means clustering untuk segmentasi konsumen, VRIO untuk mengidentifikasi keunggulan kompetitif, Porter’s five forces untuk analisis industry, PESTLE untuk lingkuangn makro, serta marketing Mix 7Ps dan matriks TOWS untuk perumusan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara internal Jenrip Kencana memiliki keunggulan kompetitif berkelanjutan berupa pengalaman usaha selama 29 tahun dan konsistensi kualitas produk. Namun, keunggulan tersebut belum didukung oleh strategi pemasaran yang efektif, ditandai dengan rendahnya brand awareness, pemasaran digital yang tidak konsisten, desain kemasan yang kurang menarik, serta tidak adanya pengelolaan data pelanggan. Dari sisi eksterna; peluang berasal dari meningkatnya kesadaran Kesehatan, penetrasi digital, dan dukungan institusi, sementara ancama utama berasal dari persaingan yang ketat dengan merek yang lebih kuat secara digital serta ketergantungan tinggi pada distributor. Analisis segmentasi mengidentifikasi lima segmen konsumen, dengan segmen 5 dipilih sebagai target utama karena memiliki daya beli yang memadai, kesadaran s=Kesehatan tinggi, serta perilaku digital yang aktif. Berdasarkan analisis positioning, Jenrip Kencana direkomendasikan untuk menempati posisi “heritage premium natural wellness” dengan diferensiasi utama pada warisan usaha sejak 1996 dan proses produksi artisanal. Strategi pemasaran yang diusulkan difromulasikan dengan pendekatan TOWS dan diimpelemntasikan dalam marketing mix 7Ps, dengan focus pada penguatan brand awareness, peningkatan akseibilitas porduk, penguatan pemasaran digital, serta pengelolaan sumber daya secara bertahap. Rencana implementasi dirancang dalam empat fase selama 24 bulan dengan prioritas pada strategi berdampak tinggi dan biaya relative rendah sesuai dengan keterbatssan UMKM