Perubahan tidak dapat dihindari dan organisasi selalu berada dalam kondisi
disrupsi. Organisasi selalu ditantang untuk mengelola disrupsi secara bijaksana
agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup organisasi. Banyak organisasi
yang harus menghentikan sementara operasinya atau bahkan mengalami
kegagalan total karena tidak tepat dalam menanggapi disrupsi. Resiliensi bisnis
telah menjadi perhatian para peneliti dan praktisi akhir-akhir ini. Motivasi dari
penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana organisasi
dapat bertahan selama disrupsi dan mampu bangkit lebih kuat setelah disrupsi.
Penelitian ini merupakan studi kasus perusahaan yang mengalami berbagai
disrupsi secara bersamaan dalam kurun waktu yang relatif lama. Penelitian ini
diawali dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan pimpinan
perusahaan yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan saat terjadi
disrupsi, kemudian menganalisis data wawancara, dan mengkaji temuan tema dari
perspektif kerangka teori. Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis
dan kerangka kerja, antara lain content analysis, System Thinking, the origins of
disruption, strategic business continuity management, dan organizational
resilience. Content analysis digunakan untuk merangkum tema-tema penting yang
muncul dari setiap informan. Penelitian ini menggunakan kerangka origins of
disruptions untuk memetakan peristiwa disruptif. Pada setiap peristiwa disruptif,
penulis menggunakan prinsip-prinsip System Thinking untuk menganalisis
dinamika organisasi. Prinsip-prinsip System Thinking juga digunakan untuk
merancang pola intervensi yang relevan dengan konteks dan tujuan yang
diharapkan oleh organisasi. Kerangka kerja Strategic business continuity
management digunakan untuk mengkaji pengambilan keputusan dan tindakan
organisasi selama fase disrupsi. Kerangka kerja organizational resilience
digunakan untuk mengkaji perencanaan tindakan organisasi untuk pulih pasca
disrupsi dan mempersiapkan diri menghadapi disrupsi di masa mendatang.
Studi ini menemukan bahwa kurangnya kesiapan dan keterbatasan sumber daya
(slack) merupakan faktor kunci dalam memitigasi hambatan disrupsi. Dampak
disrupsi memaksa organisasi untuk mengubah fundamental bisnis dan keseluruhan
organisasi. Disrupsi juga ditemukan dapat menimbulkan ketegangan dalam
organisasi dan seluruh elemen di dalamnya. Faktor waktu juga memegang peranan penting, di mana semakin lama organisasi berada di bawah tekanan,
maka semakin sulit pula organisasi tersebut untuk pulih dari keterpurukan. Dalam
menghadapi disrupsi, organisasi harus melalui dua tahap, yaitu i) melanjutkan
operasi normal (tujuan jangka pendek) dan ii) menjadi organisasi yang tangguh
(tujuan jangka panjang). Studi ini menyimpulkan bahwa untuk dapat terus
beroperasi selama disrupsi, organisasi harus mengevaluasi semua aspek
organisasi termasuk model bisnis. Dalam studi kasus ini, model bisnis ditemukan
menjadi salah satu faktor yang mengancam keberlanjutan organisasi. Organisasi
harus mengubah model bisnisnya untuk mempertahankan organisasi dalam jangka
pendek. Selain itu, organisasi juga harus membangun kembali sistem yang rusak
dan memulihkan proses bisnis inti. Untuk mencapai tujuan jangka pendek,
organisasi membangun kekuatan dengan meningkatkan teknologi dan memutuskan
arah strategis seperti mendesain ulang sistem yang aman dan dipantau,
memfokuskan kembali model bisnis, dan mengeksplorasi lini bisnis baru.
Untuk mencapai tujuan jangka panjang, organisasi harus menyediakan landasan
untuk memelihara pendorong resiliensi dengan membangun kembali budaya
organisasi dan kemudian mendorong resiliensi untuk tumbuh. Memicu pendorong
ketahanan dapat diciptakan dengan mencadangkan sumber daya yang tersisa,
mempraktikkan kesiapsiagaan, dan menerapkan prinsip tata kelola, risiko, dan
kepatuhan.
Kontribusi teoritis dari penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat
kesenjangan mengenai kecukupan persiapan yang dibutuhkan agar suatu
organisasi dapat dinyatakan tangguh. Kerangka kerja ketahanan organisasi saat
ini masih menekankan kesiapan dari perspektif kualitatif, namun masih sangat
terbatas kerangka kerja yang tersedia yang dapat mengukur tingkat kesiapan.
Kontribusi praktis dari studi ini menunjukkan bahwa respons yang tepat waktu
sangat penting bagi kelangsungan hidup organisasi dalam jangka pendek. Studi
ini juga memperluas penelitian pada organisasi yang mengalami beberapa
disrupsi sekaligus dan mengungkap bahwa satu kejadian disrupsi saling terkait
dengan yang lain.
Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar respons terhadap disrupsi
harus dievaluasi secara sistematis dan holistik dengan terlebih dahulu meninjau
berbagai aspek yang mungkin tidak disadari saling berhubungan.
Perpustakaan Digital ITB