digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

To Be Published
PUBLIC Open In Flipbook Roosalina Vanina Viyazza

Perubahan tidak dapat dihindari dan organisasi selalu berada dalam kondisi disrupsi. Organisasi selalu ditantang untuk mengelola disrupsi secara bijaksana agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup organisasi. Banyak organisasi yang harus menghentikan sementara operasinya atau bahkan mengalami kegagalan total karena tidak tepat dalam menanggapi disrupsi. Resiliensi bisnis telah menjadi perhatian para peneliti dan praktisi akhir-akhir ini. Motivasi dari penelitian ini adalah untuk menggali lebih dalam tentang bagaimana organisasi dapat bertahan selama disrupsi dan mampu bangkit lebih kuat setelah disrupsi. Penelitian ini merupakan studi kasus perusahaan yang mengalami berbagai disrupsi secara bersamaan dalam kurun waktu yang relatif lama. Penelitian ini diawali dengan pengumpulan data melalui wawancara dengan pimpinan perusahaan yang terlibat langsung dalam pengambilan keputusan saat terjadi disrupsi, kemudian menganalisis data wawancara, dan mengkaji temuan tema dari perspektif kerangka teori. Penelitian ini menggunakan beberapa metode analisis dan kerangka kerja, antara lain content analysis, System Thinking, the origins of disruption, strategic business continuity management, dan organizational resilience. Content analysis digunakan untuk merangkum tema-tema penting yang muncul dari setiap informan. Penelitian ini menggunakan kerangka origins of disruptions untuk memetakan peristiwa disruptif. Pada setiap peristiwa disruptif, penulis menggunakan prinsip-prinsip System Thinking untuk menganalisis dinamika organisasi. Prinsip-prinsip System Thinking juga digunakan untuk merancang pola intervensi yang relevan dengan konteks dan tujuan yang diharapkan oleh organisasi. Kerangka kerja Strategic business continuity management digunakan untuk mengkaji pengambilan keputusan dan tindakan organisasi selama fase disrupsi. Kerangka kerja organizational resilience digunakan untuk mengkaji perencanaan tindakan organisasi untuk pulih pasca disrupsi dan mempersiapkan diri menghadapi disrupsi di masa mendatang. Studi ini menemukan bahwa kurangnya kesiapan dan keterbatasan sumber daya (slack) merupakan faktor kunci dalam memitigasi hambatan disrupsi. Dampak disrupsi memaksa organisasi untuk mengubah fundamental bisnis dan keseluruhan organisasi. Disrupsi juga ditemukan dapat menimbulkan ketegangan dalam organisasi dan seluruh elemen di dalamnya. Faktor waktu juga memegang peranan penting, di mana semakin lama organisasi berada di bawah tekanan, maka semakin sulit pula organisasi tersebut untuk pulih dari keterpurukan. Dalam menghadapi disrupsi, organisasi harus melalui dua tahap, yaitu i) melanjutkan operasi normal (tujuan jangka pendek) dan ii) menjadi organisasi yang tangguh (tujuan jangka panjang). Studi ini menyimpulkan bahwa untuk dapat terus beroperasi selama disrupsi, organisasi harus mengevaluasi semua aspek organisasi termasuk model bisnis. Dalam studi kasus ini, model bisnis ditemukan menjadi salah satu faktor yang mengancam keberlanjutan organisasi. Organisasi harus mengubah model bisnisnya untuk mempertahankan organisasi dalam jangka pendek. Selain itu, organisasi juga harus membangun kembali sistem yang rusak dan memulihkan proses bisnis inti. Untuk mencapai tujuan jangka pendek, organisasi membangun kekuatan dengan meningkatkan teknologi dan memutuskan arah strategis seperti mendesain ulang sistem yang aman dan dipantau, memfokuskan kembali model bisnis, dan mengeksplorasi lini bisnis baru. Untuk mencapai tujuan jangka panjang, organisasi harus menyediakan landasan untuk memelihara pendorong resiliensi dengan membangun kembali budaya organisasi dan kemudian mendorong resiliensi untuk tumbuh. Memicu pendorong ketahanan dapat diciptakan dengan mencadangkan sumber daya yang tersisa, mempraktikkan kesiapsiagaan, dan menerapkan prinsip tata kelola, risiko, dan kepatuhan. Kontribusi teoritis dari penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan mengenai kecukupan persiapan yang dibutuhkan agar suatu organisasi dapat dinyatakan tangguh. Kerangka kerja ketahanan organisasi saat ini masih menekankan kesiapan dari perspektif kualitatif, namun masih sangat terbatas kerangka kerja yang tersedia yang dapat mengukur tingkat kesiapan. Kontribusi praktis dari studi ini menunjukkan bahwa respons yang tepat waktu sangat penting bagi kelangsungan hidup organisasi dalam jangka pendek. Studi ini juga memperluas penelitian pada organisasi yang mengalami beberapa disrupsi sekaligus dan mengungkap bahwa satu kejadian disrupsi saling terkait dengan yang lain. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan agar respons terhadap disrupsi harus dievaluasi secara sistematis dan holistik dengan terlebih dahulu meninjau berbagai aspek yang mungkin tidak disadari saling berhubungan.