digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pembengkakan biaya (cost overrun) merupakan salah satu tantangan utama dalam proyek konstruksi jalan tol karena berdampak terhadap kinerja proyek, profitabilitas kontraktor, serta pencapaian target pembangunan infrastruktur. Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar menghadapi berbagai permasalahan selama pelaksanaannya, antara lain keterlambatan pembebasan lahan, perubahan desain, kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal yang menyebabkan peningkatan biaya dan keterlambatan penyelesaian proyek. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko yang efektif diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi faktor-faktor penyebab pembengkakan biaya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor risiko utama yang menyebabkan pembengkakan biaya pada Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar; (2) menganalisis tingkat prioritas, akar penyebab, serta hubungan antar faktor risiko menggunakan Root Cause Analysis (RCA), Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Event Tree Analysis (ETA); serta (3) merumuskan strategi mitigasi yang efektif untuk meminimalkan pembengkakan biaya pada proyek jalan tol di masa mendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus dengan memanfaatkan tinjauan pustaka, dokumentasi proyek, wawancara semi-terstruktur, serta kuesioner penilaian pakar (expert judgment). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan pembebasan lahan merupakan faktor risiko paling dominan yang menyebabkan pembengkakan biaya, diikuti oleh perubahan desain, kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal. Hasil analisis AHP menempatkan keterlambatan pembebasan lahan sebagai risiko dengan prioritas tertinggi. Analisis RCA mengidentifikasi bahwa lemahnya koordinasi antarinstansi, tumpang tindih regulasi, lamanya proses administrasi, serta belum optimalnya sistem verifikasi kepemilikan lahan merupakan akar penyebab utama keterlambatan pembebasan lahan. Selanjutnya, hasil analisis ETA menunjukkan bahwa penerapan strategi mitigasi secara preventif dan korektif mampu menurunkan probabilitas serta dampak pembengkakan biaya melalui peningkatan identifikasi risiko sejak tahap awal dan penguatan mekanisme pengendalian proyek. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, direkomendasikan pembentukan satuan tugas (task force) pembebasan lahan yang terintegrasi, peningkatan kualitas Detailed Engineering Design (DED) sebelum konstruksi dimulai, penerapan strategi pengadaan berbasis risiko, penguatan mekanisme pengelolaan kontrak yang lebih adaptif terhadap risiko proyek, serta implementasi sistem pemantauan proyek berbasis digital. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar pemangku kepentingan, mengurangi ketidakpastian selama pelaksanaan proyek, serta meminimalkan