Pembengkakan biaya (cost overrun) merupakan salah satu tantangan utama dalam proyek konstruksi
jalan tol karena berdampak terhadap kinerja proyek, profitabilitas kontraktor, serta pencapaian target
pembangunan infrastruktur. Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar menghadapi berbagai
permasalahan selama pelaksanaannya, antara lain keterlambatan pembebasan lahan, perubahan desain,
kenaikan harga material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal yang menyebabkan
peningkatan biaya dan keterlambatan penyelesaian proyek. Oleh karena itu, penerapan manajemen
risiko yang efektif diperlukan untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan memitigasi faktor-faktor
penyebab pembengkakan biaya.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi faktor-faktor risiko utama yang menyebabkan
pembengkakan biaya pada Proyek Jalan Tol Serbelawan–Pematang Siantar; (2) menganalisis tingkat
prioritas, akar penyebab, serta hubungan antar faktor risiko menggunakan Root Cause Analysis (RCA),
Analytic Hierarchy Process (AHP), dan Event Tree Analysis (ETA); serta (3) merumuskan strategi
mitigasi yang efektif untuk meminimalkan pembengkakan biaya pada proyek jalan tol di masa
mendatang. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods melalui studi kasus dengan
memanfaatkan tinjauan pustaka, dokumentasi proyek, wawancara semi-terstruktur, serta kuesioner
penilaian pakar (expert judgment).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlambatan pembebasan lahan merupakan faktor risiko paling
dominan yang menyebabkan pembengkakan biaya, diikuti oleh perubahan desain, kenaikan harga
material, gangguan logistik, dan ketidakpastian eksternal. Hasil analisis AHP menempatkan
keterlambatan pembebasan lahan sebagai risiko dengan prioritas tertinggi. Analisis RCA
mengidentifikasi bahwa lemahnya koordinasi antarinstansi, tumpang tindih regulasi, lamanya proses
administrasi, serta belum optimalnya sistem verifikasi kepemilikan lahan merupakan akar penyebab
utama keterlambatan pembebasan lahan. Selanjutnya, hasil analisis ETA menunjukkan bahwa
penerapan strategi mitigasi secara preventif dan korektif mampu menurunkan probabilitas serta dampak
pembengkakan biaya melalui peningkatan identifikasi risiko sejak tahap awal dan penguatan
mekanisme pengendalian proyek.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, direkomendasikan pembentukan satuan tugas (task force)
pembebasan lahan yang terintegrasi, peningkatan kualitas Detailed Engineering Design (DED) sebelum
konstruksi dimulai, penerapan strategi pengadaan berbasis risiko, penguatan mekanisme pengelolaan
kontrak yang lebih adaptif terhadap risiko proyek, serta implementasi sistem pemantauan proyek
berbasis digital. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antar pemangku
kepentingan, mengurangi ketidakpastian selama pelaksanaan proyek, serta meminimalkan
Perpustakaan Digital ITB