digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Muhamad Bilal Basayev
Terbatas  Tita Nursari
» Gedung UPT Perpustakaan

Rumput laut merupakan komoditas maritim strategis di Indonesia dengan nilai ekonomi yang tinggi, terutama dalam industri pangan, farmasi, dan kosmetik. Salah satu spesies yang banyak dibudidayakan adalah Eucheuma cottonii yang menjadi sumber utama penghasil karagenan. Namun, kendala dalam sistem budidaya konvensional di perairan terbuka menyebabkan ketidakstabilan produksi dan keberlanjutan pasokan rumput laut. Pendekatan budidaya dengan sistem resirkulasi berbasis darat dapat menjadi alternatif yang menjanjikan untuk meningkatkan stabilitas produksi rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengkuantifikasi perubahan pertumbuhan dan membuat pemodelan matematis pertumbuhan Eucheuma cottonii yang dibudidayakan dengan sistem resirkulasi berbasis darat. Penelitian ini dilakukan di Screen House B3 Institut Teknologi Bandung, Kampus Jatinangor, selama 64 hari. Budidaya dilakukan menggunakan sistem resirkulasi yang terdiri dari rangkaian tangki, yang terhubung dengan sistem penyaring di dalam container box . Bibit Eucheuma cottonii yang digunakan berasal dari hasil budidaya petani di lampung yang diseragamkan bobot awal nya sebesar ±50 g. Pengukuran pertumbuhan dilakukan melalui pengukuran bobot basah dan bobot kering. Model pertumbuhan matematis diuji dengan pendekatan curve fitting menggunakan model eksponensial, logistik, dan gompertz melalui MATLAB Online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 64 hari pemeliharaan, bobot basah rata-rata meningkat dari 50,05 g menjadi 145,42 g, sementara bobot kering meningkat dari 4,62 g menjadi 13,33 g. Nilai Growth Rate (GR) bobot basah tercatat sebesar 1,490 g/hari dengan Specific Growth Rate (SGR) 1,667%/hari, sedangkan GR bobot kering sebesar 0,136 g/hari dengan SGR 1,655%/hari. Pada penelitian ini pertumbuhan berlangsung melalui beberapa fase, yaitu fase adaptasi awal (0–12 HST), fase pertumbuhan aktif (12–20 HST), penurunan sementara (20–24 HST) yang dipicu oleh tekanan epifit, pertumbuhan aktif kembali secara landai (24–44 HST), dan fase pemulihan aktif lanjutan (48–64 HST). Melalui analisis Goodness of Fit , model Gompertz terbukti menjadi model terbaik secara statistik untuk menggambarkan pola pertumbuhan bobot basah maupun bobot kering E. cottonii , dengan nilai R² tertinggi untuk bobot basah (98,34%) dan bobot kering (98,81%) dibandingkan model logistik dan eksponensial, serta nilai SSE dan RMSE terendah untuk bobot basah (247,25 ; 4,36) dan bobot kering (1,51 ; 0,34) dibandingkan model logistik dan eksponensial. Persamaan untuk model pertumbuhan bobot basah dan bobot kering berturut-turut adalah f(x) = 38,3819 + (1018000 - 38,3819) .exp (-exp ( - 0,0660.(x - 35,1488))) dan f (x) = 3,6433 + (151450 - 3,6433) .exp (-exp (-0,0680. (x- 34,9020))). Sistem resirkulasi berbasis darat menunjukkan hasil yang positif dalam mendukung pertumbuhan Eucheuma cottonii , meskipun masih terdapat gangguan seperti adanya tekanan epifit yang mempengaruhi hasilnya. Sehingga, sistem ini masih belum mencapai hasil yang setara dengan metode konvensional. Dengan pengelolaan yang lebih baik terhadap gangguan biologis dan lingkungan, sistem ini berpotensi untuk lebih optimal di masa depan.