digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ardy Satriya
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

Banjir pada sistem sungai pasang surut perkotaan dikendalikan oleh interaksi kompleks antara debit aliran dari hulu, pengaruh pasang surut di hilir, serta kontribusi limpasan lateral dari sistem drainase perkotaan. Kota Banjarmasin yang berada dalam sistem Sungai Martapura–Barito mengalami banjir ekstrem pada Januari 2021 dengan kedalaman genangan mencapai 1,2 m. Kawasan Sungai Veteran, sebagai kanal perkotaan yang terhubung secara hidraulik dengan Sungai Martapura, menjadi salah satu wilayah terdampak signifikan. Penelitian ini menganalisis karakteristik banjir Sungai Veteran melalui integrasi analisis hidrologi dan pemodelan hidraulik aliran tidak tunak. Analisis hidrologi menggunakan data curah hujan satelit Global Precipitation Measurement (GPM) yang telah dikoreksi bias dan divalidasi terhadap data BMKG Syamsuddin Noor. Transformasi hujan–aliran dilakukan menggunakan beberapa metode Hidrograf Satuan Sintetik (HSS), dan berdasarkan hasil kalibrasi terhadap karakteristik DAS, metode HSS Nakayasu dipilih sebagai metode yang paling representatif. Debit rencana yang diperoleh adalah Q25 sebesar 1219,433 m³/s pada Sungai Martapura, Q25 sebesar 3570,35 m³/s pada Sungai Barito, serta Q10 sebesar 22,06 m³/s sebagai total debit puncak lateral inflow Sungai Veteran. Analisis pasang surut menggunakan program PasutUGM dengan metode Least Square pada muara Sungai Barito dengan menggunakan data dari Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL Tahun 2025 menghasilkan elevasi +1,421 m (HHWL), +0,000 m (MSL), dan -1,554 m (LLWL). Evaluasi kinerja sistem dilakukan melalui sembilan skenario pemodelan yang mengombinasikan tiga konfigurasi geometri, yaitu: (1) kondisi eksisting Sungai Veteran, (2) desain peningkatan kapasitas Sungai Veteran, dan (3) alternatif berupa penambahan tanggul sepanjang 6,8 km pada Sungai Martapura dalam wilayah WPG Veteran serta normalisasi subdrain Pengambangan, Banua Anyar, dan Aes Nasution; serta tiga kondisi pembebanan hidrologi–pasang surut, yaitu debit puncak Q25 Sungai Martapura yang bertepatan dengan kondisi HHWL, MSL, dan LLWL Sungai Barito. Pada kondisi eksisting dengan skenario kritis Q25–HHWL, luas genangan mencapai 312,228 ha. Penerapan desain peningkatan kapasitas Sungai Veteran mampu mengakomodasi aliran lateral Q10 secara penuh dari lima Sub DTA (Ahmad Yani 1, Ahmad Yani 2, Keramat, Kuripan, dan Sungai Gardu) dan menurunkan luas genangan menjadi 251,943 ha pada kondisi HHWL (reduksi 19,308%), 85,144 ha pada kondisi MSL (reduksi 44,084%), dan 30,962 ha pada kondisi LLWL (reduksi 74,015%). Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas Sungai Veteran efektif terhadap limpasan lokal, namun masih terbatas dalam mereduksi pengaruh debit regional dan backwater pasang surut. Alternatif pembangunan tanggul dan normalisasi subdrain menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan, dengan luas genangan berkurang menjadi 44,923 ha pada kondisi HHWL (reduksi 85,612%), 4,788 ha pada kondisi MSL (reduksi 96,856%), dan 0,116 ha pada kondisi LLWL (reduksi 99,903%). Genangan residual yang masih terjadi pada Sub DTA Sungai Gardu pada kondisi HHWL Alternatif mengindikasikan bahwa kontribusi aliran dari wilayah hulu di luar batas perencanaan tetap berpengaruh, sehingga efektivitas sistem pengendalian bersifat lokal sesuai lingkup studi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efektivitas pengendalian banjir di Sungai Veteran sangat dipengaruhi oleh kontrol debit regional Sungai Martapura dan dinamika pasang surut Sungai Barito, sehingga intervensi peningkatan kapasitas lokal saja tidak memadai tanpa pengendalian hidraulik pada sistem utama. Pendekatan pemodelan hidrodinamika terintegrasi berbasis skenario dalam penelitian ini memberikan dasar kuantitatif untuk perencanaan pengendalian banjir yang adaptif pada sistem sungai pasang surut perkotaan.