digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK JEJAK KARBON INSTALASI PENGOLAHAN AIR MINUM PERKOTAAN DI INDONESIA: LIFE CYCLE ASSESSMENT (LCA) RAMBUTAN DAN KARANG ANYAR II, PALEMBANG Oleh Puteri Denita Novianti NIM: 25723306 (Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih dan Sanitasi) Perubahan iklim menuntut upaya mitigasi yang mencakup seluruh sektor infrastruktur, termasuk sistem penyediaan air minum perkotaan. Emisi gas rumah kaca (GRK) dalam proses pengolahan air minum dapat muncul pada berbagai tahap operasional, mulai dari pengambilan air baku, pengolahan, hingga distribusi, terutama jika sumber energi listrik yang digunakan masih bergantung pada jaringan yang didominasi oleh pembangkit berbahan bakar fosil. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung jejak karbon pada dua instalasi pengolahan air minum (IPA) yang dioperasikan oleh Perumda Tirta Musi Kota Palembang, yaitu IPA Rambutan dan IPA Karang Anyar II, mengidentifikasi unit proses yang memiliki kontribusi emisi terbesar, dan merumuskan skenario mitigasi operasional. Analisis dilakukan menggunakan metode Life Cycle Assessment (LCA) dengan bantuan perangkat lunak OpenLCA yang memiliki batasan studi gate-to-gate dan satuan fungsional sebesar 1 m3 air yang olahan. Dampak perubahan iklim diukur menggunakan metode IPCC 2021 AR6 GWP100. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi listrik menjadi sumber utama emisi di kedua IPA, dengan kontribusi sekitar 89% dari total emisi. Intensitas karbon masing-masing instalasi tercatat sebesar 0,2625 kg CO2-eq/m3 untuk IPA Rambutan dan 0,3244 kg CO2-eq/m3 untuk IPA Karang Anyar II yang ekuivalen dengan total emisi harian masing-masing sebesar 20.791 kg CO2-eq/hari dan 14.128 kg CO2-eq/hari. Analisis hotspot mengindikasikan bahwa unit intake dan distribusi merupakan tahapan yang paling intensif menghasilkan emisi. Skenario mitigasi menunjukkan bahwa penerapan Variable Speed Drives (VSD) pada sistem pemompaan di unit hotspot berpotensi menurunkan emisi sebesar 25–30%. Intervensi tambahan seperti pengelolaan lumpur dengan kombinasi sludge drying bed (SDB) dan constructed wetlands pada IPA Rambutan serta pemanfaatan PLTS atap di area IPA juga memberikan kontribusi dalam penurunan emisi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan gambaran bagi stakeholder untuk perumusan strategi pengelolaan air minum perkotaan yang lebih rendah karbon dan berkelanjutan.