Industri musik global baru-baru ini mulai menunjukkan potensinya dalam
memengaruhi tidak hanya budaya, tetapi juga ekonomi, khususnya pada kota yang
menyelenggarakan konser atau host city. Keberhasilan Singapura dalam
menegosiasikan hak ekslusif untuk menjadi tuan rumah dari tur terakbar Taylor
Swift, The Eras Tour, di Asia Tenggara telah menjadi kasus penting dan tolok ukur
bagaimana industri hiburan modern yang relevan, saat dipadukan dengan dukungan
pemerintah yang tepat, dapat menghasilkan keuntungan ekonomi yang terukur.
Acara tersebut dilaporkan secara luas telah membawa suntikan langsung sekitar USD
260–400 juta ke dalam GDP Singapura pada kuartal pertama. Singapura telah
menjadi menetapkan preseden baru intervensi yang dipimpin negara dalam ekonomi
hiburan. Fenomena ini, yang secara global disebut "Swiftonomics", meluas dan
melampaui pendapatan konser itu sendiri ke ekosistem ekonomi yang lebih luas
termasuk pariwisata, ritel, perhotelan, dan pencitraan merek nasional melalui
pengganda ekonomi dari para penonton konser.
Tesis ini meneliti estimasi yang beredar luas secara kausal dan menguji apakah
eksklusivitas tersebut benar-benar memiliki efek inkremental setelah pola musiman
dan pemulihan normal diperhitungkan. Tesis ini juga mengeksplorasi apakah
Indonesia, sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dapat meniru model
penyelenggaraan konser berbasis eksklusivitas seperti Singapura. Terlepas dari
permintaan yang tinggi untuk konser internasional di kalangan konsumen, Indonesia
belum berhasil mengadakan mega-event eksklusif yang sebanding. Tesis ini
membahas isu bisnis sentral di Indonesia yang mengakibatkan kebocoran ekonomi
karena konsumen membelanjakan uang di luar negeri untuk hiburan langsung.
Dengan Singapura sebagai studi kasus acuan, studi ini menerapkan kerangka kerja
ekonometrika kausal yang menggabungkan Model Kontrol Sintetis atau Synthetic
Control Model(SCM) dan desain studi peristiwa untuk memperkirakan dampak
ekonomi berdasarkan data pra-pandemi dan pasca-pandemi yang dianalisis di seluruh
variabel hasil utama, termasuk Rata-Rata Tarif Harian atau Average Daily Rate
(ADR) hotel, Pendapatan per Kamar Tersedia atau Revenue per Available Room
(RevPAR), kedatangan dari mancanegaran, dan pengeluaran indeks sektoral dalam
dampak pemasukan fiskal.
Estimasi kausal dari kejadian di Singapura yang ditemukan cukup moderat dan nyata,
dapat dilacak secara statistik, dan dapat ditransfer ke dalam kerangka simulasi untuk
mengevaluasi skenario replikasi hipotetis untuk Indonesia. Model replikasi ini
menggabungkan kendala kelembagaan dan kapasitas tempat di Indonesia, yang
memungkinkan strategi eksklusivitas yang disesuaikan untuk dibangun. Model
tersebut, yaitu mesin pengukur eksklusivitas atau exclusivity gauge engine,
membantu para pembuat kebijakan yang berupaya mengukur secara realistis dan
menghalau ekspektasi yang berlebihan untuk mengevaluasi premi eksklusivitas.
Model tersebut kemudian diperluas sebagai Model Keputusan Investasi Eksklusivitas
atau Exclusivity Investment Decision Model (EIDM), yang merupakan kerangka
kerja untuk membantu dalam pengambilan keputusan eksklusivitas dalam
pelaksanaan dan pengukuran pembatasan hibah.
Meskipun mereplikasi eksklusivitas seperti di Singapura akan menghadapi
tantangan, Indonesia memiliki kekuatan demografis, permintaan konsumen, dan
skala ekonomi untuk mengejar peluang penyelenggaraan acara akbar eksklusif.
Dengan koordinasi kelembagaan dan instrumen fiskal yang tepat, Indonesia dapat
mengubah pariwisata berbasis hiburan menjadi penggerak ekonomi strategis,
sebagaimana penelitian ini akan mensimulasikan dan menyediakan kerangka kerja
berbasis bukti untuk desain kebijakan tersebut.
Perpustakaan Digital ITB