digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri musik global baru-baru ini mulai menunjukkan potensinya dalam memengaruhi tidak hanya budaya, tetapi juga ekonomi, khususnya pada kota yang menyelenggarakan konser atau host city. Keberhasilan Singapura dalam menegosiasikan hak ekslusif untuk menjadi tuan rumah dari tur terakbar Taylor Swift, The Eras Tour, di Asia Tenggara telah menjadi kasus penting dan tolok ukur bagaimana industri hiburan modern yang relevan, saat dipadukan dengan dukungan pemerintah yang tepat, dapat menghasilkan keuntungan ekonomi yang terukur. Acara tersebut dilaporkan secara luas telah membawa suntikan langsung sekitar USD 260–400 juta ke dalam GDP Singapura pada kuartal pertama. Singapura telah menjadi menetapkan preseden baru intervensi yang dipimpin negara dalam ekonomi hiburan. Fenomena ini, yang secara global disebut "Swiftonomics", meluas dan melampaui pendapatan konser itu sendiri ke ekosistem ekonomi yang lebih luas termasuk pariwisata, ritel, perhotelan, dan pencitraan merek nasional melalui pengganda ekonomi dari para penonton konser. Tesis ini meneliti estimasi yang beredar luas secara kausal dan menguji apakah eksklusivitas tersebut benar-benar memiliki efek inkremental setelah pola musiman dan pemulihan normal diperhitungkan. Tesis ini juga mengeksplorasi apakah Indonesia, sebagai salah satu ekonomi terbesar di Asia Tenggara, dapat meniru model penyelenggaraan konser berbasis eksklusivitas seperti Singapura. Terlepas dari permintaan yang tinggi untuk konser internasional di kalangan konsumen, Indonesia belum berhasil mengadakan mega-event eksklusif yang sebanding. Tesis ini membahas isu bisnis sentral di Indonesia yang mengakibatkan kebocoran ekonomi karena konsumen membelanjakan uang di luar negeri untuk hiburan langsung. Dengan Singapura sebagai studi kasus acuan, studi ini menerapkan kerangka kerja ekonometrika kausal yang menggabungkan Model Kontrol Sintetis atau Synthetic Control Model(SCM) dan desain studi peristiwa untuk memperkirakan dampak ekonomi berdasarkan data pra-pandemi dan pasca-pandemi yang dianalisis di seluruh variabel hasil utama, termasuk Rata-Rata Tarif Harian atau Average Daily Rate (ADR) hotel, Pendapatan per Kamar Tersedia atau Revenue per Available Room (RevPAR), kedatangan dari mancanegaran, dan pengeluaran indeks sektoral dalam dampak pemasukan fiskal. Estimasi kausal dari kejadian di Singapura yang ditemukan cukup moderat dan nyata, dapat dilacak secara statistik, dan dapat ditransfer ke dalam kerangka simulasi untuk mengevaluasi skenario replikasi hipotetis untuk Indonesia. Model replikasi ini menggabungkan kendala kelembagaan dan kapasitas tempat di Indonesia, yang memungkinkan strategi eksklusivitas yang disesuaikan untuk dibangun. Model tersebut, yaitu mesin pengukur eksklusivitas atau exclusivity gauge engine, membantu para pembuat kebijakan yang berupaya mengukur secara realistis dan menghalau ekspektasi yang berlebihan untuk mengevaluasi premi eksklusivitas. Model tersebut kemudian diperluas sebagai Model Keputusan Investasi Eksklusivitas atau Exclusivity Investment Decision Model (EIDM), yang merupakan kerangka kerja untuk membantu dalam pengambilan keputusan eksklusivitas dalam pelaksanaan dan pengukuran pembatasan hibah. Meskipun mereplikasi eksklusivitas seperti di Singapura akan menghadapi tantangan, Indonesia memiliki kekuatan demografis, permintaan konsumen, dan skala ekonomi untuk mengejar peluang penyelenggaraan acara akbar eksklusif. Dengan koordinasi kelembagaan dan instrumen fiskal yang tepat, Indonesia dapat mengubah pariwisata berbasis hiburan menjadi penggerak ekonomi strategis, sebagaimana penelitian ini akan mensimulasikan dan menyediakan kerangka kerja berbasis bukti untuk desain kebijakan tersebut.