Pengembangan scaffold biomimetik struktur matriks ekstraseluler (ECM) alami
merupakan salah satu pendekatan penting dalam mendukung proses penutupan
luka. Kepompong laba-laba Argiope sp., yang kaya akan spidroin dan memiliki
struktur nanofibril alami, dipilih sebagai model biomimetik dalam fabrikasi scaffold
berbasis electrospinning untuk aplikasi penutupan luka. Penelitian ini bertujuan
untuk mengkarakterisasi properti fisik dan biologis kepompong Argiope sp.,
mengembangkan scaffold dengan electrospinning dan mengkarakterisasi properti
fisik dan biologis scaffold hasil electrospinning dan mengevaluasi kemampuan
scaffold hasil electrospinning dalam mendukung proliferasi sel melalui pengujian
in vitro menggunakan sel HDF. Scaffold yang dihasilkan diharapkan mampu
meniru nanostruktur kepompong yang berpotensi diaplikasikan sebagai scaffold
pendukung dalam proses penyembuhan luka pascaoperasi. Kepompong Argiope sp.
yang telah disterilkan dikarakterisasi secara struktural menggunakan scanning
electron microscopy (SEM) untuk mengevaluasi morfologi serat dan ukuran pori.
Spidroin diekstrak dari kepompong Argiope sp., dianalisis menggunakan SDS–
PAGE, dan selanjutnya dikarakterisasi dengan liquid chromatography–highresolution
mass spectrometry (LC-HRMS) untuk mengidentifikasi komposisi
protein. Scaffold electrospinning difabrikasi dari campuran polyvinyl alcohol–
spidroin serta dilakukan proses physical dan chemical crosslinking melalui
perlakuan panas dan metanol untuk meningkatkan stabilitas struktur scaffold.
Struktur scaffold hasil electrospin dikarakterisasi menggunakan SEM, sedangkan
kandungan proteinnya dikonfirmasi dengan Attenuated Total Reflectance Fourier
2
Transform Infrared Spectroscopy (FTIR-ATR). Selain itu, tingkat hidrofobisitas
scaffold juga dievaluasi melalui uji sudut kontak (contact angle test) dan laju
degradasi scaffold dianalisis. Evaluasi in vitro dilakukan dengan mengkultur human
dermal fibroblasts (HDFs) pada kepompong yang telah disterilkan dan scaffold
spidroin hasil electrospinning selama 72 jam, kemudian dianalisis menggunakan
SEM dan uji immunocytochemistry dengan pewarnaan DAPI dan rhodamine
phalloidin untuk menilai adhesi sel, morfologi, dan penyebaran sel. Analisis SEM
menunjukkan bahwa kepompong Argiope sp. tersusun atas fiber tipis aciniform
yang saling terhubung dan fiber yang tebal tubiliform, dengan diameter masingmasing
0,60 ± 0.06 dan 3,75 ± 0.28 ?m, sehingga membentuk pori-pori yang sesuai
untuk fibroblas masuk ke bagian dalam. Analisis proteomik mengkonfirmasi
keberadaan spidroin fungsional yang berperan dalam pembentukan kepompong,
seperti spidroin aciniform dan tubuliform. HDF melekat dan menyebar dengan baik
di atas serat kepompong Argiope sp. Scaffold hasil electrospinning memiliki fiber
yang homogen dengan diameter sebesar 0,62 ?m yang mendekati ukuran fiber
aciniform pada kepompong Argiope sp, namun menunjukkan stabilitas yang
terbatas dalam lingkungan terendam cairan. Chemical crosslinking meningkatkan
stabilitas scaffold hingga mampu mempertahankan struktur selama sekitar 12 jam,
sedangkan physical crosslinking melalui perlakuan panas memungkinkan scaffold
mempertahankan strukturnya lebih dari satu minggu dalam kondisi terendam cairan
oleh karena itu, scaffold yang dicrosslink melalui heat treatment dipilih untuk
digunakan pada pengujian-pengujian selanjutnya. Proses crosslinking pada kedua
scaffold mempengaruhi struktur fiber dengan peningkatan diameter fiber hingga
sebesar 0,88 ?m, namun tetap mempertahankan pori-pori yang interconnected.
Selain itu, uji contact angle menunjukkan bahwa scaffold hasil electrospinning
memiliki sudut kontak 84,036° yang menunjukkan sifat moderately hydrophobic.
Evaluasi in vitro pada scaffold electrospin menunjukkan perlekatan dan penyebaran
HDF yang baik di sepanjang fiber scaffold, dengan inti sel yang tetap
mempertahankan morfologi, mendukung proliferasi sel dan bersifat non-sitotoksik
dan biokompatibel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kepompong Argiope
sp. berhasil terkarakterisasi secara fisik dimana terdiri dari fiber aciniform dan
tubiliform dan mengandung pori-pori yang membentuk struktur tiga dimensi.
3
Kepompong Argiope sp. juga berhasil terkarakterisasi secara biologis yang
menunjukkan bahwa kepompong tersebut mengandung aciniform spidroin, major
ampullate spidroin dan tubiliform spidroin. Ekstrak dari kepompong Argiope sp.
terkarakterisasi dan mengandung domain N-terminal dan C-terminal spidroin dan
spidroin-1-like protein. Scaffold campuran PVA dan ekstrak spidroin berhasil
difabrikasi dengan electrospinning yang mengandung fiber sebanding dengan fiber
aciniform pada kepompong Argope sp. Scaffold tersebut dicrosslink dengan
pemanasan agar tidak terdegradasi dalam air. Scaffold hasil electrospinning setelah
crosslinking tetap mengandung spidroin berdasarkan hasil FTIR-ATR. Contact
angle scaffold hasil electrospinning bernilai pada 84.036° dan dapat dinyatakan
bahwa scaffold tersebut moderately hydrophobic. Berdasarkan hasil uji in vitro
dengan pengamatan scanning electron microscopy (SEM), uji
immunocytochemistry (ICC) dan uji proliferasi menunjukkan bahwa scaffold
maupun kepompong Argiope sp. dapat mendukung adhesi dan proliferasi sel HDF.
Perpustakaan Digital ITB