Penggunaan antibiotik secara luas pada pasien COVID-19 di masa pandemi sering
kali tanpa konfirmasi infeksi bakteri, meningkatkan risiko resistensi terhadap
antimikroba serta beban biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan
mengevaluasi pola penggunaan antibiotik, faktor klinis yang yang berhubungan
dengan penulisan resep, dampaknya terhadap luaran klinis, serta analisis beban
biaya langsung medis pada pasien COVID-19 dengan infeksi sekunder di dua
rumah sakit di kota Bandung.
Penelitian ini merupakan studi cross-sectional retrospektif terhadap 376 pasien
COVID-19 dengan infeksi sekunder yang dirawat di RSUP. Dr. Hasan Sadikin dan
RS. Paru dr. H.A. Rotinsulu, Bandung. Pola penggunaan antibiotik dianalisis secara
kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily
Dose (ATC/DDD) dan Drug Utilization 90% (DU 90%), berdasarkan jenis,
golongan, interval, dan dosis antibiotik. Faktor klinis yang dianalisis meliputi status
patogen bakteri terkonfirmasi, jumlah leukosit, riwayat tuberkulosis, komorbiditas,
dan lama rawat inap. Luaran klinis utama adalah normalisasi jumlah leukosit.
Analisis lanjutan dilakukan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang
berpotensi memengaruhi konsumsi antibiotik, dengan menggunakan data
demografis dan klinis pasien. Uji chi-quare dan odds ratio digunakan untuk
mengidentifikasi hubungan antara variabel dan faktor yang memengaruhi penulisan
resep. Analisis biaya dilakukan dengan menghitung beban biaya langsung medis
(direct medical cost) melalui pendekatan Cost of Illness selama pasien menjalani
pengobatan COVID-19.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik spektrum luas kategori WATCH
(WHO-AWaRe) mendominasi segmen DU 90% di kedua rumah sakit uji, meliputi
levofloksasin, azitromisin, sefiksim, amikasin, meropenem, dan seftazidim,
dominasi antibiotik kategori ini menunjukkan tingginya potensi risiko resistensi
antimikroba serta pentingnya penguatan pemantauan dalam praktik klinis. Analisis
faktor klinis menunjukkan bahwa konfirmasi patogen bakteri dan riwayat
tuberkulosis di RSUP Dr. Hasan Sadikin, serta normalisasi jumlah leukosit di RS
Paru dr. H.A. Rotinsulu, berkaitan dengan kecenderungan penggunaan lebih dari
satu antibiotik. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara penggunaan antibiotik
dengan pencapaian normalisasi jumlah leukosit.
Pasien COVID-19 di RSHS, faktor patogen bakteri terkonfirmasi (OR: 1,912) serta
riwayat TBC positif (OR: 2,5) menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi untuk
menerima dua atau lebih jenis antibiotik. Sedangkan, pada pasien COVID-19 di RS
Paru H.A. Rotinsulu, penurunan jumlah leukosit ke nilai normal (OR: 1,212)
cenderung meningkatkan pemberian dua atau lebih antibiotik.
Berdasarkan hasil analisis penggunaan antibiotik, levofloksasin sebagai antibiotik
dengan jumlah penggunaan tertinggi diketahui dipengaruhi secara signifikan oleh
faktor demografi, yaitu usia (OR=1,910), jenis kelamin (OR=1,672), dan lama
rawat inap/length of stay (LOS) (OR=0,001), serta faktor klinis berupa penggunaan
antibiotik lain (OR=0,238).
Sejalan dengan analisis tersebut, evaluasi terhadap luaran klinis pasien berdasarkan
nilai leukosit menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara
penggunaan antibiotik dan penurunan leukosit, meskipun sebanyak 68,1% pasien
mencapai nilai leukosit dalam batas normal.
Evaluasi Cost of Illness menunjukkan bahwa komponen biaya terbesar berasal dari
jasa pelayanan medis (46%) sebesar Rp.636.050.000, dan rawat inap (54%) sebesar
Rp.153.416.531, menekankan pentingnya efisiensi pengelolaan sumber daya klinis.
Penelitian ini berkontribusi pada evaluasi luaran klinis penggunaan antibiotik
pasien COVID-19 guna menghindari resiko terjadinya resistensi pada pasien
(keamanan penggunaan obat), hasil penelitian ini juga berkontribusi pada
penyusunan roadmap penggunaan antibiotik yang tepat, khususnya pada infeksi
sekunder COVID-19, serta mendukung pengembangan pedoman terapi berbasis
bukti. Selain itu, analisis biaya menunjukkan komponen utama beban finansial,
termasuk biaya antibiotik, perawatan rumah sakit, komplikasi, dan perawatan
jangka panjang. Temuan ini penting bagi pembuat kebijakan dalam merancang
intervensi yang mengoptimalkan penggunaan antibiotik dan efisiensi sumber daya
kesehatan.
Perpustakaan Digital ITB