digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penggunaan antibiotik secara luas pada pasien COVID-19 di masa pandemi sering kali tanpa konfirmasi infeksi bakteri, meningkatkan risiko resistensi terhadap antimikroba serta beban biaya pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pola penggunaan antibiotik, faktor klinis yang yang berhubungan dengan penulisan resep, dampaknya terhadap luaran klinis, serta analisis beban biaya langsung medis pada pasien COVID-19 dengan infeksi sekunder di dua rumah sakit di kota Bandung. Penelitian ini merupakan studi cross-sectional retrospektif terhadap 376 pasien COVID-19 dengan infeksi sekunder yang dirawat di RSUP. Dr. Hasan Sadikin dan RS. Paru dr. H.A. Rotinsulu, Bandung. Pola penggunaan antibiotik dianalisis secara kuantitatif menggunakan metode Anatomical Therapeutic Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) dan Drug Utilization 90% (DU 90%), berdasarkan jenis, golongan, interval, dan dosis antibiotik. Faktor klinis yang dianalisis meliputi status patogen bakteri terkonfirmasi, jumlah leukosit, riwayat tuberkulosis, komorbiditas, dan lama rawat inap. Luaran klinis utama adalah normalisasi jumlah leukosit. Analisis lanjutan dilakukan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor yang berpotensi memengaruhi konsumsi antibiotik, dengan menggunakan data demografis dan klinis pasien. Uji chi-quare dan odds ratio digunakan untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel dan faktor yang memengaruhi penulisan resep. Analisis biaya dilakukan dengan menghitung beban biaya langsung medis (direct medical cost) melalui pendekatan Cost of Illness selama pasien menjalani pengobatan COVID-19. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antibiotik spektrum luas kategori WATCH (WHO-AWaRe) mendominasi segmen DU 90% di kedua rumah sakit uji, meliputi levofloksasin, azitromisin, sefiksim, amikasin, meropenem, dan seftazidim, dominasi antibiotik kategori ini menunjukkan tingginya potensi risiko resistensi antimikroba serta pentingnya penguatan pemantauan dalam praktik klinis. Analisis faktor klinis menunjukkan bahwa konfirmasi patogen bakteri dan riwayat tuberkulosis di RSUP Dr. Hasan Sadikin, serta normalisasi jumlah leukosit di RS Paru dr. H.A. Rotinsulu, berkaitan dengan kecenderungan penggunaan lebih dari satu antibiotik. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara penggunaan antibiotik dengan pencapaian normalisasi jumlah leukosit. Pasien COVID-19 di RSHS, faktor patogen bakteri terkonfirmasi (OR: 1,912) serta riwayat TBC positif (OR: 2,5) menunjukkan kecenderungan yang lebih tinggi untuk menerima dua atau lebih jenis antibiotik. Sedangkan, pada pasien COVID-19 di RS Paru H.A. Rotinsulu, penurunan jumlah leukosit ke nilai normal (OR: 1,212) cenderung meningkatkan pemberian dua atau lebih antibiotik. Berdasarkan hasil analisis penggunaan antibiotik, levofloksasin sebagai antibiotik dengan jumlah penggunaan tertinggi diketahui dipengaruhi secara signifikan oleh faktor demografi, yaitu usia (OR=1,910), jenis kelamin (OR=1,672), dan lama rawat inap/length of stay (LOS) (OR=0,001), serta faktor klinis berupa penggunaan antibiotik lain (OR=0,238). Sejalan dengan analisis tersebut, evaluasi terhadap luaran klinis pasien berdasarkan nilai leukosit menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara penggunaan antibiotik dan penurunan leukosit, meskipun sebanyak 68,1% pasien mencapai nilai leukosit dalam batas normal. Evaluasi Cost of Illness menunjukkan bahwa komponen biaya terbesar berasal dari jasa pelayanan medis (46%) sebesar Rp.636.050.000, dan rawat inap (54%) sebesar Rp.153.416.531, menekankan pentingnya efisiensi pengelolaan sumber daya klinis. Penelitian ini berkontribusi pada evaluasi luaran klinis penggunaan antibiotik pasien COVID-19 guna menghindari resiko terjadinya resistensi pada pasien (keamanan penggunaan obat), hasil penelitian ini juga berkontribusi pada penyusunan roadmap penggunaan antibiotik yang tepat, khususnya pada infeksi sekunder COVID-19, serta mendukung pengembangan pedoman terapi berbasis bukti. Selain itu, analisis biaya menunjukkan komponen utama beban finansial, termasuk biaya antibiotik, perawatan rumah sakit, komplikasi, dan perawatan jangka panjang. Temuan ini penting bagi pembuat kebijakan dalam merancang intervensi yang mengoptimalkan penggunaan antibiotik dan efisiensi sumber daya kesehatan.