Co-firing biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) merupakan salah
satu strategi transisi energi yang diterapkan untuk mendukung penurunan emisi
gas rumah kaca serta pencapaian target Nationally Determined Contribution
(NDC) Indonesia. Sejalan dengan kebijakan pemerintah dan roadmap
dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan, PLTU Tarahan telah
mengimplementasikan co-firing biomassa wood chips secara komersial dengan
rasio hingga 15%. Dalam rangka mendukung peningkatan pemanfaatan energi
terbarukan dan mengevaluasi kesiapan operasional pembangkit terhadap
implementasi high co-firing ratio (HCR), penelitian ini dilakukan untuk
mengevaluasi pengaruh penggunaan biomassa wood chips pada rasio tinggi
terhadap efisiensi dan emisi boiler Circulating Fluidized Bed (CFB) PLTU
Tarahan Unit 3 yang berkapasitas 100 MW.
Penelitian ini menggunakan pendekatan simulasi dan pengujian aktual
pembangkit. Simulasi dilakukan menggunakan perangkat lunak GateCycle untuk
memodelkan kondisi operasi pada rasio co-firing 20%, 30%, dan 50%. Model
simulasi dibangun berdasarkan data heat balance, data commissioning, piping and
instrumentation diagram (P&ID), human machine interface (HMI), serta
karakteristik bahan bakar aktual PLTU Tarahan Unit 3. Validasi model dilakukan
menggunakan data performance test aktual pada pembebanan 80 MW dan 95 MW
dengan deviasi parameter operasi kurang dari 5%, sehingga model dinilai
representatif untuk memprediksi perilaku termodinamika pembangkit. Selanjutnya
dilakukan performance test aktual pada mode coal-firing dan mode high co-firing
ratio untuk memperoleh data parameter operasi, efisiensi, dan emisi boiler.
Parameter efisiensi yang dianalisis dalam penelitian ini meliputi Specific Fuel
Consumption (SFC) dan efisiensi boiler menggunakan metode energy balance
berdasarkan standar ASME PTC 4-2008. Sementara itu, parameter emisi yang
dievaluasi adalah emisi gas rumah kaca (GRK) yaitu Karbon Dioksida (CO2),
Metana (CH4) dan Dinitrogen Oksida (N2O) serta emisi konvensional yaitu Sulfur
Dioksida (SO?) dan Nitrogen Oksida (NOx) menggunakan portable flue gas
analyzer. Biomassa yang digunakan berupa wood chips yang didominasi kayu
karet dari wilayah Lampung dengan karakteristik utama berupa nilai kalor lebih
ii
rendah dan kandungan moisture lebih tinggi dibandingkan batu bara. Hasil
pengujian laboratorium pada rasio HCR 20%, 30%, dan 50%, nilai Gross Calorific
Value (GCV) campuran bahan bakar masing-masing sebesar 4.599 kkal/kg, 3.852
kkal/kg, dan 3.396 kkal/kg, sedangkan kandungan moisture masing-masing
30,45%, 35,86% dan 32,16%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan rasio co-firing biomassa
memberikan dampak signifikan terhadap performa pembangkit. Dari sisi efisiensi,
peningkatan rasio biomassa menyebabkan penurunan efisiensi boiler dan
peningkatan konsumsi bahan bakar spesifik. Pada pengujian HCR 20%, boiler
masih mampu beroperasi mendekati target daya mampu netto (DMN) dengan gross
generator load sebesar 93,94 MW, efisiensi boiler sebesar 86,28% dan nilai SFC
sebesar 0,5722 kg/kWh. Namun, pada rasio HCR 30% dan 50% terjadi penurunan
beban pembangkit menjadi 81,17 MW dan 65,43 MW. Efisiensi boiler juga turun
hingga mencapai 81,97% pada HCR 50% karena rendahnya nilai kalor biomassa
serta tingginya kandungan moisture, yang meningkatkan heat loss akibat proses
pengeringan bahan bakar selama pembakaran.
Meskipun terjadi penurunan efisiensi, implementasi high co-firing ratio
memberikan dampak positif yang signifikan terhadap penurunan emisi boiler.
Untuk emisi GRK, pada pengujian HCR secara inventarisasi mengalami
penurunan dibandingkan dengan pengujian coal-firing, hal ini dikarenakan emisi
CO2 dari pembakaran wood chips dianggap diserap kembali oleh tanaman
bersangkutan (karbon netral) sehingga bernilai 0 (nol). Namun demikian, emisi
CO2 dari pembakaran wood chips tetap dihitung tetapi tidak dipertimbangkan
dalam total emisi CO2 dan dilaporkan secara terpisah. Untuk emisi konvensional,
pengujian menunjukkan bahwa emisi SO? dan NOx menurun seiring meningkatnya
rasio biomassa. Pada HCR 50%, emisi SO? dan NOx mencapai nilai terendah dan
berada di bawah baku mutu emisi yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan, yaitu di bawah 550 mg/Nm³. Penurunan emisi SO? terjadi
karena kandungan sulfur biomassa wood chips jauh lebih rendah dibandingkan
batu bara, sedangkan penurunan NOx dipengaruhi oleh penurunan temperatur
furnace selama operasi high co-firing ratio. Temperatur lower furnace tercatat
turun dari 729,82°C pada HCR 20% menjadi 626,71°C pada HCR 50%, yang
secara langsung menekan pembentukan thermal NOx.
Dari aspek ekonomi, implementasi high co-firing ratio menunjukkan potensi
keuntungan pada rasio tertentu. Meskipun penggunaan biomassa meningkatkan
nilai SFC, namun dengan harga biomassa wood chips di PLTU Tarahan yang
relatif lebih murah sekitar 18% dibandingkan batu bara dengan nilai kalor
ekuivalen. Berdasarkan analisis biaya pokok penyediaan (BPP) tenaga listrik,
kondisi operasi paling optimal diperoleh pada pengujian HCR 20% dengan nilai
BPP sebesar Rp495,06/kWh. Oleh karena itu, secara teknis, lingkungan, dan
ekonomis, implementasi HCR 20% dinilai sebagai rasio yang paling layak untuk
diterapkan secara berkelanjutan di PLTU Tarahan Unit 3.
Perpustakaan Digital ITB