COVER Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
LAMPIRAN Dinne Audia Wahyudi
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan
Bambu betung (Dendrocalamus asper) memiliki kandungan pati tinggi pada jaringan parenkim batang, terutama pada bambu muda, sehingga rentan terhadap organisme perusak seperti kumbang bubuk dan fungi. Perendaman alami dalam air dan lumpur menjadi metode pengawetan tradisional yang berpotensi menurunkan kadar pati tanpa bahan kimia berbahaya. Namun, kajian mengenai efektivitasnya terhadap perubahan struktur kimia lignoselulosa berdasarkan umur dan posisi segmen batang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis penurunan kadar pati pada perlakuan perendaman air dan lumpur berdasarkan umur serta segmen batang, mengidentifikasi perubahan gugus fungsi kimia bambu melalui FTIR, dan menganalisis keterkaitan antara penurunan kadar pati dengan perubahan struktur kimia sebagai dasar efektivitas pengawetan alami.
Penelitian menggunakan 18 sampel bambu betung yang terdiri dari dua umur, yaitu muda ±6 bulan dan tua 3–4 tahun, tiga segmen batang, yaitu pangkal, tengah, dan ujung, serta tiga perlakuan, yaitu kontrol, rendam air mengalir, dan rendam lumpur sawah selama enam bulan. Kadar pati diuji menggunakan metode Luff-Schoorl dengan satu kali pengukuran per sampel. Analisis FTIR dilakukan pada sepuluh sampel terpilih menggunakan Shimadzu IRTracer-100 pada rentang 400–4000 cm?¹. Data dianalisis secara deskriptif-komparatif.
Hasil menunjukkan bahwa perendaman air menurunkan kadar pati dari kontrol 8,55–13,32% menjadi 5,10–7,91% dengan penurunan 17,0–57,8%, sedangkan perendaman lumpur menurunkannya menjadi 3,92–7,81% dengan penurunan 18,0–68,0%. Kadar pati terendah terdapat pada perlakuan rendam lumpur segmen ujung bambu muda (LMU), yaitu 3,92%. Secara umum, perendaman lumpur lebih efektif karena melibatkan mekanisme fisik, biologis, dan interaksi mineral, sedangkan perendaman air lebih efektif pada segmen pangkal bambu muda. Analisis FTIR menunjukkan pelemahan pita C=O xilan hemiselulosa (~1726 cm?¹), sementara pita lignin (~1604 cm?¹) dan selulosa (~896 cm?¹) tetap terdeteksi, sehingga struktur utama lignoselulosa tidak terdegradasi.
Perpustakaan Digital ITB