digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia, namun sejauh mana program pengembangan kapasitas digital yang didanai pemerintah benar-benar berujung pada adopsi teknologi yang berkelanjutan dan peningkatan kinerja usaha masih belum jelas. Penelitian ini mengevaluasi Digital Entrepreneurship Academy (DEA), program pelatihan yang diselenggarakan oleh BLSDM Komdigi Bandung, untuk menilai efektivitasnya dalam mendorong adopsi teknologi digital pada UMKM di Jawa Barat melalui Model Evaluasi Pelatihan Empat Level Kirkpatrick: Reaksi, Pembelajaran, Perilaku (adopsi), dan Hasil, yang diperluas dengan faktor pendukung dan penghambat dari teori adopsi teknologi (TAM dan UTAUT). Dengan menggunakan pendekatan survei kuantitatif terhadap 262 pemilik dan pengelola UMKM yang mengikuti program DEA tahun 2025, data dianalisis melalui uji reliabilitas, statistik deskriptif, korelasi, regresi berganda pada dua model, serta uji mediasi atas jalur tidak langsung melalui adopsi. Seluruh tujuh konstruk dinyatakan reliabel (Cronbach's Alpha 0,808–0,950) dan seluruh item valid. Hasil evaluasi menunjukkan adanya kesenjangan yang konsisten antara “mengetahui” dan “menerapkan”. Peserta melaporkan reaksi yang tinggi (rata-rata = 4,47) dan pembelajaran yang tinggi (rata-rata = 4,27), serta hasil bisnis yang positif (rata-rata = 3,90), tetapi adopsi teknologi digital (rata-rata = 3,35) merupakan satu-satunya level yang hanya berkategori sedang, dengan ketertinggalan terbesar pada alat operasional seperti sistem kasir (POS) dan pencatatan keuangan digital. Analisis regresi menunjukkan bahwa adopsi tidak didorong oleh kepuasan terhadap pelatihan, melainkan oleh faktor pendukung (? = 0,42) dan pembelajaran (? = 0,23); reaksi, pendampingan, dan usia usaha bukan merupakan prediktor yang signifikan (Model 1, R² = 0,340). Adopsi selanjutnya secara signifikan memprediksi hasil bisnis (? = 0,35), bersama pembelajaran dan faktor pendukung (Model 2, R² = 0,485). Uji mediasi memastikan bahwa adopsi menyalurkan sebagian — bukan seluruh — pengaruh tersebut: 23,5% pengaruh pembelajaran dan 40,0% pengaruh faktor pendukung terhadap hasil bisnis mengalir melalui adopsi, sementara pengaruh langsungnya tetap signifikan. Yang menonjol, faktor pendukung secara signifikan memengaruhi baik adopsi maupun hasil bisnis, menjadikan lingkungan pendukung: modal, waktu, dan infrastruktur, sebagai determinan yang paling menentukan, sementara keterbatasan modal menjadi hambatan yang paling dirasakan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa DEA efektif dalam menghasilkan kepuasan dan pembelajaran, dan bahwa adopsi yang didorongnya berasosiasi signifikan dengan peningkatan kinerja usaha, tetapi titik terlemahnya berada pada level perilaku, yaitu tahap di mana pelatihan seharusnya mengubah praktik. Karena adopsi sekaligus merupakan hasil terlemah dan pengungkit kuat terhadap kinerja usaha, serta lebih bergantung pada kondisi pendukung daripada pendampingan, penelitian ini merekomendasikan pengalihan fokus kurikulum ke penerapan terapan, pengintegrasian mitra ekosistem pembiayaan untuk mengatasi hambatan modal, dan penataan ulang dukungan pascapelatihan menjadi sistem akuntabilitas berbasis milestone.