Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan penggerak utama
perekonomian Indonesia, namun sejauh mana program pengembangan kapasitas
digital yang didanai pemerintah benar-benar berujung pada adopsi teknologi
yang berkelanjutan dan peningkatan kinerja usaha masih belum jelas. Penelitian
ini mengevaluasi Digital Entrepreneurship Academy (DEA), program pelatihan
yang diselenggarakan oleh BLSDM Komdigi Bandung, untuk menilai
efektivitasnya dalam mendorong adopsi teknologi digital pada UMKM di Jawa
Barat melalui Model Evaluasi Pelatihan Empat Level Kirkpatrick: Reaksi,
Pembelajaran, Perilaku (adopsi), dan Hasil, yang diperluas dengan faktor
pendukung dan penghambat dari teori adopsi teknologi (TAM dan UTAUT).
Dengan menggunakan pendekatan survei kuantitatif terhadap 262 pemilik dan
pengelola UMKM yang mengikuti program DEA tahun 2025, data dianalisis
melalui uji reliabilitas, statistik deskriptif, korelasi, regresi berganda pada dua
model, serta uji mediasi atas jalur tidak langsung melalui adopsi. Seluruh tujuh
konstruk dinyatakan reliabel (Cronbach's Alpha 0,808–0,950) dan seluruh item
valid.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya kesenjangan yang konsisten antara
“mengetahui” dan “menerapkan”. Peserta melaporkan reaksi yang tinggi
(rata-rata = 4,47) dan pembelajaran yang tinggi (rata-rata = 4,27), serta hasil
bisnis yang positif (rata-rata = 3,90), tetapi adopsi teknologi digital (rata-rata =
3,35) merupakan satu-satunya level yang hanya berkategori sedang, dengan
ketertinggalan terbesar pada alat operasional seperti sistem kasir (POS) dan
pencatatan keuangan digital. Analisis regresi menunjukkan bahwa adopsi tidak
didorong oleh kepuasan terhadap pelatihan, melainkan oleh faktor pendukung (?
= 0,42) dan pembelajaran (? = 0,23); reaksi, pendampingan, dan usia usaha
bukan merupakan prediktor yang signifikan (Model 1, R² = 0,340). Adopsi
selanjutnya secara signifikan memprediksi hasil bisnis (? = 0,35), bersama
pembelajaran dan faktor pendukung (Model 2, R² = 0,485). Uji mediasi
memastikan bahwa adopsi menyalurkan sebagian — bukan seluruh — pengaruh
tersebut: 23,5% pengaruh pembelajaran dan 40,0% pengaruh faktor pendukung
terhadap hasil bisnis mengalir melalui adopsi, sementara pengaruh langsungnya
tetap signifikan. Yang menonjol, faktor pendukung secara signifikan memengaruhi
baik adopsi maupun hasil bisnis, menjadikan lingkungan pendukung: modal,
waktu, dan infrastruktur, sebagai determinan yang paling menentukan, sementara
keterbatasan modal menjadi hambatan yang paling dirasakan.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa DEA efektif dalam menghasilkan kepuasan
dan pembelajaran, dan bahwa adopsi yang didorongnya berasosiasi signifikan
dengan peningkatan kinerja usaha, tetapi titik terlemahnya berada pada level
perilaku, yaitu tahap di mana pelatihan seharusnya mengubah praktik. Karena
adopsi sekaligus merupakan hasil terlemah dan pengungkit kuat terhadap kinerja
usaha, serta lebih bergantung pada kondisi pendukung daripada pendampingan,
penelitian ini merekomendasikan pengalihan fokus kurikulum ke penerapan
terapan, pengintegrasian mitra ekosistem pembiayaan untuk mengatasi hambatan
modal, dan penataan ulang dukungan pascapelatihan menjadi sistem
akuntabilitas berbasis milestone.
Perpustakaan Digital ITB