digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ilham Nabiil Muttaqien
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Padang lamun merupakan ekosistem karbon biru yang mampu menyimpan karbon organik dalam jumlah besar, terutama pada kompartemen sedimen yang bertahan dalam skala waktu geologis. Pulau Tunda, Banten, memiliki habitat lamun seluas 29,11 Ha namun belum pernah dikaji stok karbonnya. Penelitian ini bertujuan mengkaji struktur komunitas lamun, mengestimasi stok karbon organik pada komponen above ground (AG), below ground (BG), dan sedimen permukaan, serta menganalisis faktor lingkungan yang mempengaruhinya. Data diambil pada 13–18 Agustus 2025 di 10 titik pengamatan menggunakan transek kuadrat 1×1 m. Analisis karbon dilakukan di Laboratorium MTCRC (Marine Technology Cooperation Research Center) Cirebon menggunakan Elemental Analyzer Skalar Primacs SNC 100 dengan metode High-Temperature Combustion dan pengasaman. Hubungan parameter lingkungan dengan stok karbon dianalisis menggunakan metode Principal Component Analysis (PCA). Pesisir utara didominasi spesies Thalassia hemprichii (218–247 tegakan/m²) sebagai adaptasi terhadap gelombang Laut Jawa, sedangkan pesisir selatan didominasi spesies Enhalus acoroides (36–111 tegakan/m²) di perairan yang lebih tenang, dengan rata-rata kerapatan total 139,9 tegakan/m². Sedimen mendominasi total stok karbon secara mutlak: rata-rata OCS-S sebesar 145,55 g C org/m² berbanding OCS-Sg (biomassa) hanya 2,37 g C org/m², dengan alokasi BG (1,53 g C org/m²) lebih besar dari AG (0,84 g C org/m²). Total karbon organik padang lamun Pulau Tunda mencapai 47,56 Mg, dengan kontribusi sedimen 98,18% (46,69 Mg) dan biomassa hanya 1,82% (0,87 Mg). Analisis PCA (varians kumulatif 75,96%) menunjukkan korelasi negatif kuat antara kerapatan dan stok karbon (r = -0,78 terhadap OCS-Sg; r = -0,65 terhadap OCS-S), membuktikan bahwa stok karbon biru lebih ditentukan oleh morfologi dan biomassa spesies daripada kerapatan tegakan.