Krisis ekologis dan sosial kontemporer berupa deforestasi hutan yang masif, penggusuran
paksa suku asli demi ekspansi kapital, serta kedaruratan sampah yang tidak terkendali saat ini
telah mengancam esensi toleransi dan mengikis keharmonisan hubungan antara manusia,
sesama mahluk hidup, serta lingkungan-alam. Merespon imbas dari isu besar tersebut,
penciptaan seni ini hadir dengan keberpihakan penuh melalui formulasi gagasan alternatif
berbasis praktik yang diberi nama “TRISIKON” (Tiga Situasi dan Kondisi). Pendekatan ini
secara pro-aktif mengaitkan sekaligus mentransformasikan kompleksitas isu multidimensi
tersebut ke dalam ruang di kawasan Babakan Siliwangi melalui metode asosiasi trimurti ruang.
Di dalam struktur konseptual ini, Sasana Budaya Ganesa (SABUGA) diejawantahkan sebagai
representasi Pikir guna menantang sekaligus mendekonstruksi krisis rasionalitas antroposentris
yang melanggengkan kerusakan alam dan deforestasi. Selanjutnya, Sarana Olahraga Ganesa
(SARAGA) ditarik sebagai representasi Raga untuk menyuarakan represi fisik, benturan
spasial, serta ketertindasan tubuh suku asli yang terasing dan tercabut dari ruang hidup serta
tanah mereka. Sementara itu, Galeri A-Sanggar Olah Seni diasosiasikan sebagai representasi
Rasa, yang berfungsi sebagai ruang pengendapan empati, katarsis estetis, dan kepekaan rasa
kemanusiaan yang mulai terabaikan di tengah kepungan tumpukan sampah peradaban yang
tidak terkendali.
Spirit toleransi yang melandasi kegelisahan sosial-ekologis ini sengaja ditranslasikan ke dalam
eksplorasi karya sinema-moving image (video) dengan memanfaatkan platform expanded
cinema (sinema dengan layar terpisah atau multi-layar). Medium ini dipilih karena watak
layarnya yang otonom namun tetap saling terhubung secara tematik untuk menyajikan
rangkaian visual yang dinamis. Pada umumnya, logika moving image (art by time based)
berbasis durasi dan perekaman langsung telah mengalami perkembangan visual yang pesat,
mentransformasikan karya diam (still image) menjadi dinamis (dynamic image), sehingga
membuka ruang apresiasi serta perayaan lintas disiplin ilmu yang melibatkan ilmuwan,
seniman, hingga kalangan masyarakat umum (spektator). Melanjutkan trajektori sejarah paruh
1960-an ketika sineas asal Amerika Serikat, Stan Van Der Beek, mulai menantang konvensi
tontonan arus utama demi menciptakan ruang partisipatif, pergerakan expanded cinema
menolak hubungan satu arah tradisional antara layar dan penonton. Melalui peralihan dari
logika screening menuju logika exhibition, film tidak lagi sekadar diputar melainkan
diinstalasikan di ruang-ruang galeri atau wilayah outdoor. Mengacu pada pemikiran Prof.
Yasraf Amir Piliang mengenai ruang-waktu layar (space-time of screen), pengalaman
penonton secara ontologis dimediasi oleh medium layar dinamis yang memperluas
keterhubungan visual secara langsung maupun tidak langsung melalui jalinan cerita
Mengingat kajian maupun eksibisi expanded cinema di Indonesia belum populer, penciptaan
disertasi ini memetakan posisi seni kontemporernya dengan membandingkan karakteristik
karya berbasis kejejeran peristiwa artistik layar milik Sardono W. Kusumo, Garin Nugroho,
serta struktur repetisi situasi interaktif multi-layar dari Isaac Julien. Kebaruan yang ditawarkan
dalam riset penciptaan ini bertumpu pada penggabungan elemen visual dokumentasi, animasi,
dan live action yang dibingkai oleh metodologi "TRISIKON". Melalui anyaman tiga pilar
ruang Babakan Siliwangi yang diikat oleh spirit keberagaman esensi tiga warna TRIDATU
(merah, putih, hitam) Hindu Bali, karya ini hadir bukan sekadar sebagai eksperimentasi bentuk
visual dalam semesta sinema kontemporer, melainkan bertindak nyata sebagai bentuk advokasi
visual kritis yang merayakan perbedaan. Penciptaan ini berhasil membuktikan adanya bentuk
kekaryaan baru yang sarat akan simbol toleransi dan harmoni, sekaligus menjadi tawaran
resolusi estetis nuansa lokal atas retaknya hubungan ekologis manusia dengan alamnya.
Perpustakaan Digital ITB