digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Adefia Sakura Kuncoro
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola akses informasi masyarakat, namun turut memengaruhi menurunnya minat literasi dan apresiasi terhadap budaya lokal. Permasalahan tersebut menuntut hadirnya perpustakaan yang mampu bertransformasi menjadi ruang publik yang mengintegrasikan fungsi pendidikan, pelestarian budaya, dan interaksi sosial. Topik tugas akhir ini berfokus pada perancangan Perpustakaan Umum Seni dan Budaya sebagai ruang edukasi dan pelestarian budaya yang mendukung SDG 4 (Quality Education), SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), dan SDG 16 (Peace, Justice and Strong Institutions) melalui penyediaan ruang belajar yang inklusif serta peningkatan akses terhadap pengetahuan dan budaya. Isu utama yang melatarbelakangi perancangan adalah rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia, perubahan perilaku belajar di era digital, serta semakin memudarnya identitas budaya lokal akibat arus globalisasi. Kondisi tersebut menuntut hadirnya fasilitas publik yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya lokal. Tipologi bangunan yang dipilih adalah Perpustakaan Umum Seni dan Budaya di Kota Yogyakarta. Tipologi ini dipilih karena perpustakaan memiliki peran strategis sebagai pusat literasi, pelestarian warisan budaya, ruang kolaborasi, serta inovasi akses pengetahuan yang relevan dengan karakter Yogyakarta sebagai kota pelajar dan pusat seni budaya Indonesia. Pendekatan yang digunakan adalah Neuroarchitecture, yang mengintegrasikan prinsip ilmu saraf ke dalam desain arsitektur untuk menciptakan ruang yang mendukung kenyamanan, konsentrasi, kesejahteraan emosional, dan interaksi sosial. Pendekatan tersebut dipadukan dengan konsep Cosmological Axis of Knowledge yang mengadaptasi Sumbu Filosofi Yogyakarta serta konsep Tri Nga (Ngerti–Ngrasa–Nglakoni) sebagai dasar pembentukan pengalaman ruang yang menghubungkan proses memahami, menghayati, dan mengimplementasikan pengetahuan. Metode perancangan dilakukan melalui studi literatur, analisis tapak, studi preseden, analisis pengguna, dan pengembangan konsep desain secara komprehensif. Perancangan ini bertujuan menghasilkan perpustakaan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat informasi, tetapi juga sebagai ruang belajar, berekspresi, dan berinteraksi yang mampu meningkatkan literasi masyarakat, melestarikan seni dan budaya lokal, serta menghadirkan pengalaman ruang yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. Luaran yang dihasilkan berupa rancangan arsitektur "Cosmological Axis of Knowledge: Perpustakaan Umum Seni dan Budaya dengan Pendekatan Neuroarchitecture di Kota Yogyakarta" yang diharapkan dapat menjadi model pengembangan perpustakaan publik masa depan yang menghubungkan warisan budaya, teknologi, dan kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.