Jaringan Tegangan Menengah (JTM) mempunyai peran penting untuk menyalurkan
listrik dari Gardu Induk menuju lokasi-lokasi beban. Hingga pada tahun 2025, PT
PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Kotabumi, mempunyai 63
jaringan tegangan menengah 20 kV yang menyalurkan listrik menuju 604.728
pelanggan. Sebanyak 95,71% konfigurasi jaringan tegangan menengah yang
digunakan adalah jenis Saluran Udara Tegangan Menengah. Konfigurasi ini
mempunyai tantangan terhadap gangguan eksternal, salah satunya adalah sambaran
petir. Jumlah gangguan jaringan tegangan menengah akibat sambaran petir yang
mengakibatkan pemadaman listrik pada tahun 2023 hingga 2025 berturut-turut
adalah 87, 57, dan 40 kali kejadian.
Sebagai perlindungan terhadap surja petir pada jaringan tegangan menengah,
arrester digunakan sebagai proteksi utama. Arrester berfungsi untuk memotong
tegangan transien surja sehingga magnitudo tegangan lebih yang dirasakan oleh
peralatan dibawah Basic Insulation Level (BIL). Konfigurasi dan spesifikasi sistem
proteksi surja diatur dalam SPLN D5.006: 2013, yang merupakan pembaruan dari
buku standar konstruksi. Namun, dalam implementasinya terdapat berbagai variasi
konfigurasi sistem proteksi surja arrester. Variasi konfigurasi tersebut meliputi
variasi rating arus pelepasan nominal arrester, variasi material down conductor,
variasi titik instalasi arrester, dan variasi bonding pada down conductor instalasi
pembumian. Variasi ini disebabkan belum dilakukan pembaruan standar
konfigurasi yang digunakan dalam proses pembangunan, maupun dari kebijakan
unit perusahaan untuk menggunakan konfigurasi maupun spesifikasi tertentu. Oleh
sebab itu, seluruh variasi dilakukan pengujian untuk mengetahui dampak terhadap
tegangan lebih surja yang dihasilkan saat jaringan tersambar petir. Konfigurasi
instalasi pembumian baru juga diusulkan untuk mendapatkan tegangan lebih surja
paling minimum.
Penelitian ini menggunakan software Electromagnetic Transients Program
(EMTP) dalam melakukan pengujian setiap variasi konfigurasi sistem proteksi
surja arrester. Setiap komponen dalam jaringan distribusi secara lengkap
dimodelkan menggunakan EMTP untuk mendapatkan kondisi jaringan distribusi
yang sesungguhnya. Berbeda dari penelitian yang telah ada, pada penelitian ini
ii
cross-arm pada jaringan distribusi berhasil dilakukan pemodelan secara spesifik
agar mendapat hasil yang lebih akurat. Selanjutnya, penelitian dilakukan
menggunakan dengan nilai arus sambaran petir negatif probabilitas 50% sebesar
31,78 kA gelombang 8/20 ?s yang disalurkan pada jaringan fasa R.
Penggunaan variasi arus pelepasan nominal arrester yang berbeda pada sistem
proteksi surja jaringan menunjukan perbedaan tegangan lebih surja yang tidak
signifikan dengan deviasi hanya 0,190 kV hingga 2,140 kV. Sehingga tidak
memberikan perbedaan performa pada ketiga variasi arus pelepasan nominal
arrester. Selain itu, dari hasil simulasi menunjukan meskipun arrester digunakan
pada kedua sirkit di jaringan sirkit ganda, namun terjadinya flashover pada sirkit
atas tetap dapat menyebabkan back-flashover pada sirkit bawah. Sehingga
konfigurasi dari sistem proteksi surja perlu ditingkatkan agar tegangan lebih surja
yang timbul berada pada ambang batas Basic Insulation Level (BIL) peralatan.
Kenaikan tegangan lebih pada variasi peletakan arrester dipengaruhi oleh panjang
total lead arrester. Semakin dekat peletakan arrester dengan peralatan yang di
proteksi maka tegangan lebih surja dihasilkan lebih rendah 2,270 kV hingga 7,642
kV. Pada sistem proteksi surja jaringan, arrester yang terpasang sejajar isolator
mempunyai nilai maksimal tegangan lebih surja yang lebih rendah dibanding
peletakan dengan penambahan cross-arm. Hasil yang sama terjadi pada sistem
proteksi surja gardu distribusi, dimana peletakan arrester sejajar bushing primer
menghasilkan nilai tegangan lebih surja lebih yang rendah dari peletakan arrester
sejajar FCO.
Penggunaan bonding pada down conductor mampu menurunkan nilai tegangan
lebih surja secara signifikan. Pada sistem proteksi surja jaringan maupun gardu
distribusi, keseluruhan variasi tanpa bonding menunjukan selalu terjadi breakdown
pada ketahanan isolasi peralatan. Sedangkan dengan dilakukan bonding pada crossarm
untuk sistem proteksi surja jaringan dengan peletakan arrester sejajar isolator,
dan bonding pada terminal bodi trafo untuk proteksi surja gardu distribusi peletakan
arrester sejajar bushing primer, keduanya menjadi konfigurasi yang menghasilkan
tegangan lebih surja yang dihasilkan berada dibawah nilai Basic Insulation Level
(BIL) peralatan yaitu dengan nilai tertinggi hanya 94,627 kV.
Setiap material down conductor memiliki nilai instrinsik resistansi dan
induktansinya. Namun hasil penelitian menunjukan penggantian material BC 50
mm2 menjadi AAAC 70 mm2 memiliki perbedaan nilai tegangan lebih yang
cenderung identik yaitu dengan nilai tertinggi 92,807 kV untuk proteksi surja
jaringan dan 94,517 kV untuk proteksi surja gardu distribusi.
Pengujian konfigurasi baru yang diusulkan dengan penggunaan material down
conductor AAAC 70 mm2 tetap menghasilkan performa dibawah nilai Basic
Insulation Level (BIL) peralatan. Sehingga penggunaan variasi konfigurasi ini
menjadi opsi keseimbangan antara faktor kehandalan dan keamanan.
Perpustakaan Digital ITB