Pulau Jawa merupakan wilayah dengan populasi tertinggi di Indonesia dan
menghadapi tekanan besar terhadap sumber daya air tanah akibat pertumbuhan
penduduk, ekspansi lahan terbangun. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
variabilitas spasial dan temporal simpanan air tanah di Pulau Jawa selama periode
2002–2024 serta mengevaluasi pengaruh faktor iklim dan antropogenik terhadap
dinamika Groundwater Storage Anomaly (GWSA). Estimasi GWSA diperoleh
melalui integrasi data satelit Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE)
dengan data Global Land Data Assimilation System (GLDAS) untuk mengisolasi
komponen air tanah dari total simpanan air daratan. Faktor iklim direpresentasikan
oleh curah hujan, indeks El Niño–Southern Oscillation (ENSO), dan Indian Ocean
Dipole (IOD), sedangkan faktor antropogenik direpresentasikan oleh perubahan
tutupan lahan. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan statistik nonparametrik, uji tren Mann-Kendall, serta metode Empirical Orthogonal Function
(EOF) untuk mengidentifikasi pola dominan variabilitas GWSA dan keterkaitannya
dengan faktor pengontrol iklim dan antropogenik. Hasil analisis menunjukkan
bahwa variabilitas GWSA di Pulau Jawa selama periode 2002–2024 bersifat
heterogen secara spasial. Wilayah Jawa bagian barat dicirikan oleh nilai GWSA
yang relatif rendah dengan fluktuasi yang lebih kecil, sedangkan wilayah Jawa
bagian tengah dan timur menunjukkan nilai GWSA yang lebih tinggi dengan
variabilitas antar-tahun yang lebih besar. Analisis tren jangka panjang
menggunakan uji Mann-Kendall menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan
simpanan air tanah pada skala regional dengan laju sekitar +3,12 mm/tahun.
Namun, tren tersebut tidak bersifat linear dan dipengaruhi secara kuat oleh kejadian
iklim ekstrem. Pada periode El Niño kuat tahun 2011–2016, terjadi penurunan
GWSA sekitar -7,22 mm/tahun, yang menunjukkan sensitivitas sistem air tanah
terhadap kondisi iklim kering. Analisis EOF menunjukkan bahwa variabilitas
GWSA pada skala resolusi GRACE didominasi oleh satu mode utama (EOF-1)
yang menjelaskan sekitar 67,14% dari total variabilitas GWSA. Komponen
temporalnya (PC-1) menunjukkan korelasi signifikan dengan faktor hidroklimat,
yaitu korelasi positif dengan Indian Ocean Dipole (IOD) (? = 0,30; p < 0,05) serta
korelasi signifikan negatif dengan curah hujan (? = -0,12; p < 0,05), yang
mencerminkan adanya respon tertunda (hydrological lag) sistem air tanah terhadap
variabilitas curah hujan. Selain pengaruh iklim, PC-1 juga menunjukkan hubungan yang signifikan dengan
faktor antropogenik yang direpresentasikan oleh perubahan tutupan lahan. Korelasi
positif yang kuat dengan luas lahan terbangun (? = 0,69; p < 0,001) dan korelasi
positif dengan luas tutupan hutan (? = 0,59; p < 0,01) mengindikasikan bahwa
meskipun variabilitas utama GWSA dikendalikan oleh faktor hidroklimat regional,
perubahan tutupan lahan berperan sebagai tekanan jangka panjang yang
memodulasi penguatan atau pelemahan pola dominan simpanan air tanah pada
skala Pulau Jawa.
Perpustakaan Digital ITB