COVER Shafya Riska Febianti
EMBARGO  2028-11-06 
EMBARGO  2028-11-06 
BAB 1 Shafya Riska Febianti
EMBARGO  2028-11-06 
EMBARGO  2028-11-06 
BAB 2 Shafya Riska Febianti
EMBARGO  2028-11-06 
EMBARGO  2028-11-06 
BAB 3 Shafya Riska Febianti
EMBARGO  2028-11-06 
EMBARGO  2028-11-06 
BAB 4 Shafya Riska Febianti
EMBARGO  2028-11-06 
EMBARGO  2028-11-06 
BAB 5 Shafya Riska Febianti
EMBARGO  2028-11-06 
EMBARGO  2028-11-06 
Infeksi malaria zoonosis disebabkan oleh parasit malaria Plasmodium knowlesi yang
ditransmisikan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina dengan inang alaminya adalah
Macaca fascicularis (kera ekor panjang). Berdasarkan Annual Parasite Incidence (API)
443.530 orang terinfeksi malaria pada tahun 2022 dan sebanyak 0,07% terinfeksi Plasmodium
knowlesi di Sumatera dan Kalimantan. Infeksi zoonotik berkaitan erat dengan prinsip One
Health yang bergantung pada konsep kesehatan antara manusia, kera ekor panjang, vektor,
dan lingkungan. Lingkungan menjadi salah satu bagian penting karena aktivitas alam yang
berpengaruh salah satunya adalah faktor klimatologis, yakni perubahan iklim yang melibatkan
perubahan suhu, kelembaban, dan curah hujan di setiap daerah yang memengaruhi
perkembangbiakan vektor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis temporal
terhadap kasus infeksi zoonosis Plasmodium knowlesi dari sampel darah yang berasal dari tiga
daerah terduga infeksi zoonotik malaria, yaitu Sabang, Aceh serta dua daerah di Kabupaten
Nunukan, Kalimantan Utara dalam periode 2023 – 2024. Untuk mencapai tujuan tersebut
dilakukan tahapan penelitian sebagai berikut, (1) pengambilan sampel darah berupa bahan
biologi tersimpan (BBT) dari Puskesmas/Rumah Sakit; (2) pra analitikal sampel; (3) isolasi
DNA genomik; (4) identifikasi gen 18 small subunit ribosomal RNA (18S rRNA) Plasmodium
spp menggunakan metode Nested Polymerase Chain Reaction (PCR); dan (5) analisis
hubungan klimatologis terhadap angka kejadian infeksi Plasmodium knowlesi melalui pola
klimograf. Perolehan data klimatologis berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) wilayah
Sabang, Aceh dan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pada penelitian ini telah dilakukan
isolasi DNA genomik dari Sabang berupa 277 sampel, 16 sampel dari Sanur, dan 30 sampel
dari Sebatik. Analisis PCR menunjukkan adanya 48 sampel positif Plasmodium knowlesi dan
6 sampel positif Plasmodium vivax. Korelasi antara klimatologis dengan angka kejadian
Plasmodium knowlesi menyatakan infeksi Plasmodium knowlesi tertinggi terjadi saat transisi
curah hujan tinggi ke rendah dengan kondisi kelembaban pada tingkat konfidensi 95% berada
dalam rentang 82,62 ± 6,1408%, rata-rata suhu 27,54 ± 1,7069 °C, dan curah hujan yang berada
pada kategori menengah yakni 100 – 300 mm memberikan dampak terhadap angka kejadian
Plasmodium knowlesi. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi kepada Dinas Kesehatan
dan lembaga terkait dalam pengendalian dan pencegahan infeksi malaria zoonosis di daerah
Sabang, Aceh dan Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara serta daerah di Indonesia lainnya
yang berpotensi terjadinya infeksi Plasmodium knowlesi.
Perpustakaan Digital ITB