Nias dengan geografis berupa pulau terpisah merupakan wilayah Provinsi Sumatera
Utara yang tidak terhubung dengan jaringan transmisi utama Sumatera sehingga
memiliki sistem kelistrikan yang terpisah (isolated grid). Penelitian ini bertujuan
menganalisis potensi hibridisasi PLTS dan baterai pada sistem isolated grid Nias
untuk mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil
terutama PLTD yang masih menjadi bagian konfigurasi utama. Pemodelan PLTS
Nias 26 MWac mampu menghasilkan energi tahunan sebesar 36,71GWh/tahun
dengan performance ratio sebesar 0,764. Simulasi keekonomian multi-skenario
untuk konfigurasi pembangkitan isolated grid Nias menghasilkan skenario S2
sebagai skenario terbaik dengan konfigurasi PLTS Nias 26 MWac dan baterai 13
MWh terintegrasi dengan isolated grid Nias. Skenario S2 memberikan capaian net
present cost (NPC) sebesar Rp10,249 triliun dengan LCOE sebesar Rp2.445/kWh.
Hibridisasi PLTS dan baterai membantu penurunan kapasitas puncak pembangkit
berbahan bakar fosil sehingga tingkat konsumsi bahan bakar menurun dan
tambahan fleksibilitas operasi sehingga mampu menghilangkan capacity shortage
dan menurunkan excess energy dari PLTS yang tidak mampu diserap beban. Hal
ini mengakibatkan penurunan tingkat emisi CO2 dari 265.921 ton/tahun menjadi
232.173 ton/tahun.
Simulasi stabilitas aliran daya dan RMS menunjukkan bahwa sistem kelistrikan
isolated grid Nias mampu mempertahankan kestabilan operasi pada kedua skenario
gangguan. Pada skenario instantaneous power out, tegangan turun hingga 68,2 kV
dan frekuensi mencapai 49,05 Hz, kemudian kembali stabil pada 69,13 kV dan
49,42 Hz. Sementara itu, pada skenario ramp-down power out, perubahan tegangan
berada pada rentang 69,57–70,05 kV dan frekuensi pada rentang 49,43–50,07 Hz,
menunjukkan bahwa penetrasi PLTS 26 MWac masih dapat diakomodasi dengan
baik oleh sistem dalam beradaptasi terhadap intermitensi PLTS.
Perpustakaan Digital ITB