Perairan Selatan Jawa memiliki dinamika oseanografi yang kompleks akibat
pengaruh angin monsun, Arus Lintas Indonesia (Arlindo), dan Indian Ocean Dipole
(IOD), yang secara langsung memengaruhi intensitas upwelling dan distribusi
vertikal klorofil-a. Penelitian ini bertujuan menganalisis dan membandingkan
karakteristik profil vertikal klorofil-a di Perairan Selatan Jawa pada kondisi IOD
menggunakan data in-situ CTD dan membandingkannya dengan model CMEMS.
Data observasi yang digunakan meliputi 37 profil CTD in-situ yang dikumpulkan
pada Oktober 2018 (13 stasiun, IOD positif), November 2019 (13 stasiun, IOD
positif), dan Juli 2022 (11 stasiun, IOD cenderung negatif) di perairan Selatan Jawa
Barat (Region I), Selatan Jawa Tengah (Region II), hingga Jawa Timur–Bali
(Region III). Parameter suhu, salinitas, dan klorofil-a dianalisis dalam bentuk profil
vertikal, penentuan parameter termoklin, serta korelasi Pearson terhadap data
CMEMS pada kedalaman 5, 10, dan 15 m. Hasil menunjukkan bahwa IOD positif
pada tahun 2019 menghasilkan termoklin paling dangkal dengan batas atas 7–40 m
dan konsentrasi klorofil-a tertinggi mencapai 3,18 mg/m³ di Region I, sementara
IOD positif tahun 2018 menghasilkan produktivitas tertinggi di Region III dengan
konsentrasi klorofil-a mencapai 4,04 mg/m³ pada kedalaman 10 m. Sebaliknya,
IOD cenderung negatif (2022) menyebabkan stratifikasi kuat dengan batas atas
termoklin terdalam dan terpanas (38–65 m; 28–29°C), salinitas permukaan sangat
rendah (33,1–34,2 PSU), serta konsentrasi klorofil-a terendah (<0,4 mg/m³),
kecuali di Region III yang masih menunjukkan produktivitas lokal akibat pengaruh
Selat Lombok. Perbandingan dengan model CMEMS menghasilkan korelasi
sedang hingga lemah yang menurun seiring bertambahnya kedalaman (r = 0,595
pada 5 m; r = 0,396 pada 10 m; r = 0,301 pada 15 m), mengindikasikan model tidak
mampu merepresentasikan struktur vertikal klorofil-a secara memadai, khususnya
lapisan puncak klorofil subpermukaan.
Perpustakaan Digital ITB