digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Anggrita Naya Maulidina
Terbatas  Yati Rochayati
» Gedung UPT Perpustakaan

Akupunktur dapat dimodelkan sebagai rangkaian listrik jarum dan jaringan, dengan jarum berperan sebagai elektroda yang memicu muatan listrik pada jalur konduktif jaringan. Dengan demikian, karakteristik aliran listrik ini tidak hanya dipengaruhi teknik penusukan, tetapi juga bergantung pada sifat material jarum. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh material jarum akupunktur terhadap karakteristik arus-tegangan sistem listrik jarum dan jaringan menggunakan stimulasi arus searah (DC). Jarum akupunktur berbahan emas dan stainless-steel ditusukkan di titik akupunktur LI4 (Hegu) dan LI11 (Quchi) menggunakan teknik promotion needling pada dua kelompok subjek. Arus dan tegangan sistem jarum-jaringan diukur menggunakan IV Meter Nachriebe 101 pada rentang tegangan 0 – 1.28 V, untuk membandingkan profil I-V kedua kelompok material. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok jarum emas menghasilkan profil hubungan arus-tegangan (I-V) yang lebih linear pada 19 dari 20 subjek (R² = 0.7138 – 0.9872) dengan variasi respons arus antarsubjek yang menurun seiring kenaikan tegangan (CV: 103.93% ? 43.83%), sesuai hukum Ohm dengan resistansi rata-rata sebesar 571.57 \pm 355.77 k\Omega. Sementara itu, kelompok jarum stainless steel menunjukkan profil hubungan arus-tegangan (I-V) yang diikuti penurunan arus, diduga akibat pembentukan lapisan pasif pada permukaan jarum, sehingga pendekatan hukum Ohm tidak berlaku. Hasil ini membuktikan bahwa sifat material jarum akupunktur dapat memengaruhi karakteristik listrik sistem jarum-jaringan selama stimulasi arus searah (DC), sehingga dapat menjadi pertimbangan awal pengembangan material jarum akupunktur untuk terapi konvensional maupun berbasis stimulasi listrik.