digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Banjir merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada sistem saluran drainase di Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, khususnya pada Drainase Kadilangu, Drainase Legoksari, dan Drainase Gendingan. Wilayah tersebut merupakan kawasan perkotaan yang mengalami perkembangan aktivitas permukiman dan infrastruktur sehingga meningkatkan luas permukaan kedap air dan berpotensi meningkatkan limpasan permukaan saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Kejadian banjir pada tanggal 23 Februari 2023 menyebabkan genangan pada beberapa lokasi, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang. Banjir tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain keterbatasan kapasitas saluran drainase eksisting, sedimentasi yang mengurangi kapasitas tampungan saluran, serta perubahan tata guna lahan di daerah tangkapan yang meningkatkan volume limpasan permukaan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permasalahan banjir tidak hanya berkaitan dengan aspek hidrologi dan hidraulika, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan terhadap aktivitas masyarakat, infrastruktur, serta kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang tidak hanya meninjau kondisi teknis sistem drainase, tetapi juga mengevaluasi besarnya kerugian ekonomi akibat banjir serta kelayakan ekonomi dari alternatif upaya pengendalian banjir yang direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerugian ekonomi akibat banjir di Kecamatan Batang serta mengevaluasi kelayakan ekonomi dari beberapa alternatif pengendalian banjir menggunakan pendekatan Benefit–Cost Analysis (BCA). Analisis hidrologi dilakukan untuk menentukan hujan rencana yang digunakan sebagai input dalam pemodelan banjir. Selanjutnya, pemodelan banjir dilakukan menggunakan pendekatan satu dimensi dan dua dimensi (1D–2D) dengan perangkat lunak PCSWMM untuk mensimulasikan aliran dan genangan banjir pada sistem drainase serta sungai penerima. Skenario pemodelan banjir dilakukan pada beberapa kondisi, yaitu kejadian banjir aktual pada tanggal 23 Februari 2023, banjir rencana dengan kala ulang 10 tahun (R10), serta dua skenario pengendalian banjir berupa normalisasi saluran drainase dan kombinasi normalisasi saluran dengan pembangunan saluran pengalihan. Hasil pemodelan digunakan untuk memperoleh informasi mengenai luas genangan dan kedalaman genangan pada setiap skenario. Selanjutnya, analisis kerugian ekonomi dilakukan menggunakan metode Economic Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC) dengan mempertimbangkan luas genangan, kedalaman genangan, serta jenis tutupan lahan yang terdampak. Nilai kerugian ekonomi yang diperoleh kemudian digunakan sebagai dasar dalam analisis kelayakan ekonomi menggunakan indikator Net Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR) untuk menilai kelayakan investasi pada setiap alternatif pengendalian banjir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian banjir pada tanggal 23 Februari 2023 menghasilkan luas genangan sebesar 222,61 ha dengan kerugian ekonomi sebesar Rp 41.306.428.750,00. Pada kondisi banjir rencana dengan kala ulang R10, luas genangan meningkat menjadi 226,71 ha dengan kerugian ekonomi sebesar Rp 42.567.354.475,00. Penerapan skenario normalisasi saluran drainase mampu menurunkan luas genangan menjadi 195,05 ha dengan kerugian ekonomi sebesar Rp 35.228.396.862,50. Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa skenario normalisasi menghasilkan NPV sebesar Rp 21.739.530.258, BCR sebesar 0,60, dan IRR sebesar 23%. Meskipun nilai NPV dan IRR menunjukkan adanya potensi manfaat ekonomi, nilai BCR yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh masih lebih kecil dibandingkan dengan biaya investasi yang diperlukan sehingga skenario tersebut belum sepenuhnya layak secara ekonomi. Sementara itu, skenario kombinasi normalisasi saluran drainase dan pembangunan saluran pengalihan menunjukkan hasil yang lebih optimal dalam mereduksi dampak banjir. Pada skenario ini luas genangan berkurang secara signifikan menjadi 123,88 ha dengan kerugian ekonomi menurun menjadi Rp 23.069.455.750,00. Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa skenario kombinasi tersebut layak secara ekonomi dengan nilai NPV sebesar Rp 71.176.039.176, BCR sebesar 1,05, serta IRR sebesar 27%. Nilai BCR yang lebih besar dari satu menunjukkan bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh dari pengurangan kerugian banjir lebih besar dibandingkan dengan biaya investasi yang diperlukan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa kombinasi normalisasi saluran drainase dan pembangunan saluran pengalihan merupakan alternatif pengendalian banjir yang paling efektif dan layak secara ekonomi untuk mengurangi dampak banjir pada sistem drainase di Kecamatan Batang. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan dan pengambilan keputusan terkait pengendalian banjir serta pengelolaan sistem drainase perkotaan di Kabupaten Batang secara berkelanjutan.