Banjir merupakan salah satu permasalahan yang sering terjadi pada sistem saluran
drainase di Kecamatan Batang, Kabupaten Batang, khususnya pada Drainase
Kadilangu, Drainase Legoksari, dan Drainase Gendingan. Wilayah tersebut
merupakan kawasan perkotaan yang mengalami perkembangan aktivitas
permukiman dan infrastruktur sehingga meningkatkan luas permukaan kedap air
dan berpotensi meningkatkan limpasan permukaan saat terjadi hujan dengan
intensitas tinggi. Kejadian banjir pada tanggal 23 Februari 2023 menyebabkan
genangan pada beberapa lokasi, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana
Daerah (BPBD) Kabupaten Batang. Banjir tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor, antara lain keterbatasan kapasitas saluran drainase eksisting, sedimentasi
yang mengurangi kapasitas tampungan saluran, serta perubahan tata guna lahan di
daerah tangkapan yang meningkatkan volume limpasan permukaan. Kondisi
tersebut menunjukkan bahwa permasalahan banjir tidak hanya berkaitan dengan
aspek hidrologi dan hidraulika, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang
signifikan terhadap aktivitas masyarakat, infrastruktur, serta kegiatan ekonomi di
wilayah perkotaan. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang tidak hanya meninjau
kondisi teknis sistem drainase, tetapi juga mengevaluasi besarnya kerugian
ekonomi akibat banjir serta kelayakan ekonomi dari alternatif upaya pengendalian
banjir yang direncanakan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerugian ekonomi akibat banjir di
Kecamatan Batang serta mengevaluasi kelayakan ekonomi dari beberapa alternatif
pengendalian banjir menggunakan pendekatan Benefit–Cost Analysis (BCA).
Analisis hidrologi dilakukan untuk menentukan hujan rencana yang digunakan
sebagai input dalam pemodelan banjir. Selanjutnya, pemodelan banjir dilakukan
menggunakan pendekatan satu dimensi dan dua dimensi (1D–2D) dengan
perangkat lunak PCSWMM untuk mensimulasikan aliran dan genangan banjir pada
sistem drainase serta sungai penerima. Skenario pemodelan banjir dilakukan pada
beberapa kondisi, yaitu kejadian banjir aktual pada tanggal 23 Februari 2023, banjir
rencana dengan kala ulang 10 tahun (R10), serta dua skenario pengendalian banjir
berupa normalisasi saluran drainase dan kombinasi normalisasi saluran dengan
pembangunan saluran pengalihan. Hasil pemodelan digunakan untuk memperoleh
informasi mengenai luas genangan dan kedalaman genangan pada setiap skenario.
Selanjutnya, analisis kerugian ekonomi dilakukan menggunakan metode Economic
Commission for Latin America and the Caribbean (ECLAC) dengan
mempertimbangkan luas genangan, kedalaman genangan, serta jenis tutupan lahan
yang terdampak. Nilai kerugian ekonomi yang diperoleh kemudian digunakan
sebagai dasar dalam analisis kelayakan ekonomi menggunakan indikator Net
Present Value (NPV), Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR)
untuk menilai kelayakan investasi pada setiap alternatif pengendalian banjir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejadian banjir pada tanggal 23 Februari 2023
menghasilkan luas genangan sebesar 222,61 ha dengan kerugian ekonomi sebesar
Rp 41.306.428.750,00. Pada kondisi banjir rencana dengan kala ulang R10, luas
genangan meningkat menjadi 226,71 ha dengan kerugian ekonomi sebesar Rp
42.567.354.475,00. Penerapan skenario normalisasi saluran drainase mampu
menurunkan luas genangan menjadi 195,05 ha dengan kerugian ekonomi sebesar
Rp 35.228.396.862,50. Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa
skenario normalisasi menghasilkan NPV sebesar Rp 21.739.530.258, BCR sebesar
0,60, dan IRR sebesar 23%. Meskipun nilai NPV dan IRR menunjukkan adanya
potensi manfaat ekonomi, nilai BCR yang lebih kecil dari satu menunjukkan bahwa
manfaat ekonomi yang diperoleh masih lebih kecil dibandingkan dengan biaya
investasi yang diperlukan sehingga skenario tersebut belum sepenuhnya layak
secara ekonomi.
Sementara itu, skenario kombinasi normalisasi saluran drainase dan pembangunan
saluran pengalihan menunjukkan hasil yang lebih optimal dalam mereduksi
dampak banjir. Pada skenario ini luas genangan berkurang secara signifikan
menjadi 123,88 ha dengan kerugian ekonomi menurun menjadi Rp
23.069.455.750,00. Hasil analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa
skenario kombinasi tersebut layak secara ekonomi dengan nilai NPV sebesar Rp
71.176.039.176, BCR sebesar 1,05, serta IRR sebesar 27%. Nilai BCR yang lebih
besar dari satu menunjukkan bahwa manfaat ekonomi yang diperoleh dari
pengurangan kerugian banjir lebih besar dibandingkan dengan biaya investasi yang
diperlukan.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, dapat disimpulkan bahwa kombinasi
normalisasi saluran drainase dan pembangunan saluran pengalihan merupakan
alternatif pengendalian banjir yang paling efektif dan layak secara ekonomi untuk
mengurangi dampak banjir pada sistem drainase di Kecamatan Batang. Hasil
penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan dan pengambilan
keputusan terkait pengendalian banjir serta pengelolaan sistem drainase perkotaan
di Kabupaten Batang secara berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB