Pentingnya industri minyak dan gas untuk energi Indonesia membuat perawatan ageing facility menjadi aktivitas yang krusial. Dua kerusakan yang kerap ditemukan pada pipeline adalah cacat retak dan penyok dimana pembahasan mendalam asesmen FFS sudah banyak dilakukan. Akan tetapi belum ada pembahasan FFS ketika retak dalam pipa terkena penyok. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk melakukan asesmen FFS pada pipeline 18 inci yang memiliki retak dan penyok dilokasi yang sama. Pipeline dinyatakan layak beroperasi dengan retak sedalam 2,54 mm karena panjang retak 12,7 mm tidak melebihi batas kritikal level 1. Selain itu titik asesmen (????????,????????) tidak melebihi kurva FAD pada level 2 maupun 3. Sama halnya, pipeline dinyatakan aman beroperasi dengan cacat penyok 3,81 mm karena semua kriteria pada level 1 dan 3 cacat penyok dipenuhi. Ditemukan pula bahwa tegangan sisa akibat pengelasan dapat diabaikan karena jarak cacat jauh dengan sambungan las pada 500 mm. Pengenalan penyok dengan retak membuat regangan plastik ekuivalen 0,1765 melebihi batas triaxial strain pipa pada 0,1304 yang menandakan local failure. Titik asesmen yang dihasilkan juga melewati kurva FAD yang menandakan pipeline mengalami fracture. Ditemukan kedalaman maksimum penyok yang diperbolehkan hanya 1,36 mm. Variasi retak dengan rasio a/t 0,2, 0,5, dan 0,8 dilakukan pada tekanan operasi sampai desain yang tidak cukup kuat untuk menggagalkan pipeline. Akan tetapi penambahan penyok menyebabkan pipeline gagal untuk semua ukuran. Pipeline dengan a/t 0,2 gagal karena indentasi membuat crack front membuka dan fracture terjadi. Sedangkan pipa dengan a/t 0,5 dan 0,8 mengalami local failure karena ukuran retak memperbolehkan regangan plastik mencapai batas triaxial strain sebelum cacat retak gagal. Terakhir, kedalaman maksimum penyok untuk tiap ukuran retak juga telah ditemukan sebagai referensi inspeksi selanjutnya.
Perpustakaan Digital ITB